Anak Buruh Tak Mampu, Sukses jadi Polisi
Bripda Pol Rumaniyah 

By Redaksi SS 24 Apr 2018, 21:04:42 WIB Tokoh / Profil
Anak Buruh Tak Mampu, Sukses jadi Polisi

Keterangan Gambar : Rumaniyah, anak buruh tak mampu yang rajin puasa Senin-Kamis mengantarkannya menjadi seorang polisi wanita (polwan).


Semarangsekarang.com--Usianya baru menginjak dua puluh tahun Agustus nanti. Tetapi, diusia mudanya, itu ia sudah menempuh perjuangan berat  untuk meraih sukses. Berasal dari keluarga kurang mampu di Desa Tangkil Kulon, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Itulah  Bripda Pol Rumaniyah yang baru sebulan ini bertugas di Divisi Teknologi informasi dan Komunikasi (Div TIK, Mabes Polri di Jakarta). 

Untuk menjadi seperti sekarang, Rum atau Nia, begitu ia biasa disapa harus melewati jalan terjal yang nyaris membuatnya terjungkal. Lulus dari  SDN  Tangkil Kulon, Rum sempat pasrah. Ia merasa tidak mungkin melanjutkan pendidikan, karena kondisi ekonomi keluarganya yang sungguh memprihatinkan. Ayahnya, Kliwon, hanya berprofesi buruh tani. Namun walau anak buruh, berkat prestasi akademik dan bimbingan guru-guru di SDN Tangkil  Kulon Nia bisa melanjutkan pendidikan dengan dana BOS ke SMP Negeri 2 Kedungwuni.

“Masalah seperti ini kembali terulang ketika mau masuk SMA. Satu-satunya cara agar bisa melanjutkan pendidikan saya harus mencari sekolah gratis, pilihannya SMK Jateng. Tetapi bapak melarang kalau saya sekolah di Semarang. Karena itu diam-diam saya minta uang sama Ibu, tidak mungkin minta uang ke bapak yang jelas tidak memberi restu”, kata Rumaniyah menambahkan. 

Nasib mujur rupanya tengah menghampiri anak ke enam dari 7 bersaudara pasangan Kliwon dan Miskiyah. Singkat cerita, ia dinyatakan lulus, dan diterima sebagai siswa di SMK Jawa Tengah, jurusan Teknik Otomasi Indistri.

Meski semua fasilitas diberikan secara cuma-Cuma, namun di SMK Jateng ini Nia kerap melaksanakan puasa senin kamis.  Puasa sunah, ini   sudah menjadi langganannya sejak SD. Selain untuk menghemat, Rum percaya hajatnya akan lebih mudah dicapai jika dilaksanakan dengan penuh keprihatinan termasuk dengan berpuasa. 

Rupanya, kebiasaan itu ditiru oleh banyak kawan-kawannya di asrama. Buktinya sejak teman-temannya tahu ia, berpuasa, sejak itu ada teman-temannya yang lain, yang ikut berpuasa. 

Lulus  dari SMK Jateng, Rumania tidak menemukan tawaran pekerjaan, seperti yang diperoleh teman-teman pria. Karena itu, ia kembali berfikir untuk melanjutkan sekolah. Tetapi. lagi-lagi persoalan biaya membuatnya harus lebih cermat menentukan tujuan. Keinginannya menjadi dokter, agar bisa membantu orang lain, jelas tak bisa digapai. Karena untuk masuk ke Fakultas Kedokteran biayannya terlampau tinggi. 

Akhirnya, Rum memutuskan ikut pendidikan kepolisian. Tetapi, waktu pendaftaran yang hampir tutup dia harus menyiapkan semua persyaratan adminsitratifnya dalam waktu singkat. Karena tekad dan perjuangan yang tak kenal lelah akhirnya ia berhasil mendaftarkan diri di pendidikan kepolisian negara. 

“Tahap berikutnya terasa sangat sulit, sebelum tes kesehatan diketahui bahwa dua gigi geraham saya bolong, untuk mengatasinya saya memilih dicabut," kata Rum lagi.  

Kendala lain, saat harus ujian renang, dia sempat bingung. Karena tak punya uang untuk berlatih, kemudian dia sempat mencuri-curi ilmu, dari pelatih renang yang tengah melatih anak didiknya. Tetapi ketika sang pelatih tahu, dia justru ditawari untuk berlatih dengan gratis. 

Setelah melewati berbagai ujian, Nia dinyatakan lulus. Namun saat yang mengharukan ketika dia adalah satu-satunya calon polisi yang tidak diantar orangtuanya, saat masuk ke sekolah kepolisian. Itu terjadi karena orangtuanya tak memiliki cukup uang untuk mengantar anaknya.

Kini, Rumania tengah menunggu gaji pertamanya sebagai anggota korps baju cokelat. Mestinya, momen seperti ini membuatnya berbahagia. Tetapi Rum dipaksa masih harus lebih bersabar. Seperti teman-temannya yang lain. Ia baru akan menerima jerih payah hasil keringatnya itu pada Juni nanti. 

Kini, Rum banyak berpuasa. Pasalnya uang yang dia miliki semakin menipis. Demikian berhematnya, kadang ia hanya makan sepotong roti dalam satu hari. Meski begitu ia tabah menjalani hari-harinya yang penuh liku. Keinginannya jelas, satu hari ia ingin membahagiakan orangtuanya. Berhaji bersama mereka, membelikan rumah buat mereka, juga menyekolahkan keponakan-keponakannya.  

“Dari berbagai cita-cita itu, saya ingin mengabdi dengan baik kepada negara. Saya ingin membalas kebaikan negara, lebih banyak dibanding apa yang sudah saya terima dari negara”, kata Rum lagi. Selamat Rum, selamat bertugas, semoga kamu menjadi polisi wanita (polwan) yang dicintai Rakyat Indonesia. (mbd.SS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment