Asal Ikhlas, Kesulitan Apapun Akan Berakhir Indah
Dini Sukmawati Str Keb

By Redaksi SS 26 Des 2019, 13:28:59 WIB Tokoh / Profil
Asal Ikhlas, Kesulitan Apapun Akan Berakhir Indah

Keterangan Gambar : Dini Sukmawati (baju khaki) saat bersama mahasiswi praktek


Semarangsekarang.com  - Menjadi guru merupakan cita-cita yang ingin diraihnya sejak kecil. Tetapi, ibarat pepatah bunga layu  sebelum berkembang, keinginan tersebut tak pernah menjadi kenyataan. Demi menuruti saran ayahnya,  Dini Sukmawati Str. Keb merelakan diri mengubur impiannya menjadi guru. Ia membelokkan arah keinginannya,  dan menerima  menjadi  bidan, seperti saran sang ayah.  Berkat    saran, itulah istri dari Adi Surya Hadikusuma, ini bisa merasakan nikmatnya  memberi manfaat   bagi orang lain.  Bukan hanya satu atau dua orang saja, tetapi puluhan atau malah ratusan orang, telah dia tolong, khususnya wanita hamil dan kaum perempuan. 

Kini, perempuan kelahiran Pekalongan, 28 November 1978, tersebut  makin mantap menjalankan profesinya sebagai bidan di Puskesmas Kedungwuni II Kabupaten Pekalongan. Tiap hari, pintu hati dan tangan halusnya   terbuka untuk memberi pertolongan kepada mereka yang membutuhkan. Bukan hanya berbentuk bantuan tindakan kebidanan, tetapi juga saran dan pelajaran tentang kesehatan. 

"Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Dalam kesibukan saya, sesekali saya juga dimintai menyampaikan pelajaran atau makalah-makalah menyangkut kesehatan, laiknya guru seperti yang ernah saya cita-citakan.  Meski tidak secara langsung menjadi guru, tetapi ada kalanya saya memberikan pelajaran, karena itu saya bersyukur bisa menjadi bidan seperti sekarang," kata Dini kepada semarangsekarang.com, beberapa waktu lalu. 

Sejak tahun 1997

Karier Dini sebagai Bidan dimulai pada 1997, selepas pendidikan D1 PPB Depkes RI Pekalongan. Saat itu ia ditempatkan di Puskesmas  Desa Tlogopakis, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. Pada era tahun 1997,  jalanan di Petung masih rusak, listrik dari PLN pun belum masuk ke sana. Kalau malam, penduduk desa mengandalkan listri dari kincir air, sehingga sangat terbatas. Sedangkan Dini yang tinggal di rumah dinas menggunakan lampu minyak. 

Saat itu, di Kecamatan Petung  masih ada beberapa desa terpencil yang hanya bisa dijangkau melalui jalan setapak. Alhasil, saat berkunjung ke Pos Yandu, Dini terpaksa berjalan kaki, berangkat selesai subuh, dan baru kembali saat hari menginjak petang. 

Kondisi tersebut akan terasa semakin sulit, jika ada pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit pada malam hari. Pasti kebayang, betaoa  beratnya melakukan evakuasi dimalam hari, melalaui jalan setapak yang tidak disinari cahaya lampu. Tetapi begitulah pengalaman yang sempat ditemukan putri bungsu tiga bersaudara pasangan Subroto Suryosasmito dan Djaziroh,   sewaktu dinas di Kecamatan Petung. 

"Pernah diundang menolong seorang ibu yang mau melahirkan. Saat tiba di tempat, si pasien ternyata sudah dua hari dibantu dukun bayi melakukan proses persalinan tapi belum berhasil, karena  posisi bayinya tidak benar. Setelah bersusah payah dirujuk di rumah sakit, hanya sang ibu yang bisa diselamatkan, sementara bayinya meninggal,” kata Dini penuh haru. 

Menurut Dini, terlalu banyak kenangan yang sudah dilalui selama bertugas di Petung. Rata-rata, tantangan alam dan minimnya fasilitas infrastruktur, menjadikan tugas tenaga kesehatan seperti dirinya, menjadi semakin berat. Namun, keramahan dan ketulusan orang-orang disana, membuat rasa Lelah setelah menolong, itu bisa terobati. Apalagi, hamper semua orang yang pernah dibantunya, selalu memberi makanan, maupun sekedar oleh-oleh. 

“Sebuah kerukunan dan gotong yang, saat ini hampir sulit bisa ditemukan di kota-kota besar. Semoga saja, bidan-bidan muda yang ditugaskan didaerah terpencil bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Apapun kesulitannya, kalau itu dilakukan dengan ikhlas, pasti akan terasa indah diakhirnyan,” kata Dini menambahkan. (m budiono-SS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment