BKIPM Musnahkan Ikan Arapaima dan Aligator

By Redaksi SS 18 Agu 2018, 17:37:13 WIB Semarangan
BKIPM Musnahkan Ikan Arapaima dan Aligator

Keterangan Gambar : BKIPM saat memperlilhatkan berbagai jenis ikan predator yang akan dimusnahkan (gambar kiri) dan petugas saat membawa ikan Arapaima yang hendak dimusnahkan (gambar kanan).


Semarangsekarang.com—Maraknya ikan predator yang membahayakan ekosistem sungai di Indonesia, atau musnahnya ikan-ikan asli sungai di Jawa ternyata di akibatkan oleh jenis ikan impor yang sengaja di lepas oleh pemiliknya yang tak mampu memberi makan lagi. Dan hal ini mendapat perhatian serius dari pemerintah kota dan kabupaten. Termasuk yang dilakukan Balai Karantina Ikan dan Pengenda Mutu (BKIPM).

BKIPM Kota Semarang menyita dari beberapa tempat maupun menerima secara sukarela dari pemiliknya beberpa jenis ikan impor dari jenis predator, diantanya jenis tersebut adalah  ikan Aligator, Ikan Arapaima, Piranha dan ikan Redtail Catfish yang habitat aslinya dari  Amerika Selatan, atau disungai Amazon.

Ikan perdator yang disita dan diterima BKIPM ada 78 ekor ikan berbahaya dan bersifat Invasif dan dilakukan pemusnahan dengan cara dikubur oleh Balai Karantina Ikan dan Pengenda Mutu (BKIPM) Semarang jalan Suratmo No 28 Semarang, beberapa waktu lalu. Pemusnahan tersebut dilakukan didepan kantor tersebut merupakan tindaklanjut dari penyerahan secara sukarela dari masyarakat yang berada di wilayah Jateng.

“Mereka secara sadar menyerahkan ikan berbahaya dan invasif yang mereka selama ini pelihara dan sudah ditindaklanjuti dengan pemusnahan dengan cara dikubur,” kata Gatot Perdana, kepala BKIPM Semarang.

Dengan adanya ikan berbahaya tersebut, ungkapnya, menjadi edukasi ataupun pemahaman kepada masyarakat yang ada wilayah Jateng sehingga bisa menjaga sumberdaya ikan yang ada di Jateng khususnya yang tidak terdampak adanya ikan-ikan berbahaya yang berasal dari luar negeri.

“Kegiatan ini dapat menjadi nilai pendidikan bagi masyarakat agar tidak memelihara atau melepas ikan tersebut disungai karena akan merusak ekosistem yang ada diwilayah tersebut,” ungkapnya.

Gatot menambahkan untuk pemusnahannya itu sendiri dilakukan dengan cara pembiusan sehingga mematikan secara perlahan-lahan dan tidak merasakan kesakitan sehingga hewan segera mati. Cara mematikannya adalah Ikan berbahaya tersebut diberikan cairan minyak cengkeh yang telah memenuhi unsur animal affair.

“Sehingga cara mematikaannya memenuhi unsur-unsur kehewanan tidak dengan menyiksa sehingga bisa mati dengan lebih cepat,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Gatot menghimbau kepada masyarakat sudah dilakukan edukasi pemahaman bahwa dengan adanya aturan tidak diperbolehkan untuk memasukkan kemudian memelihara ikan.

“Maka kepada masyarakat dihimbau untuk bisa menyerahkan secara sukarela sehingga tidak berdampak atau tidak memiliki dampak negatif terhadap perairan di Jateng dan terhadap menusia yang berintraksi dengan lingkungan tersebut,” tandas Gatot. (faf-SS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment