Dengan Kopi, Kenji Turut Membangun Kabupaten Pati
Kopi dari kaki Gunung Muria

By Redaksi SS 04 Jul 2019, 14:13:51 WIB Tokoh / Profil
Dengan Kopi, Kenji Turut Membangun Kabupaten Pati

Keterangan Gambar : Kenji memperlihatkan produk hasil kopinya.


Semarangsekarang.com - Tidaklah salah jika orangtuanya memberi nama Kenji (40 tahun).  Karena ia memiliki   sifat-sifat seperti orang negeri Sakura kebanyakan. Yaitu, cerdas, pekerja keras dan pantang menyerah. 

Buktinya, meski pada pertengahan 90-an, ia bolak balik Jakarta-Pati jadi kuli bangunan, namun kini Kenji  sudah menjadi salah satu pengusaha kopi tersukses di Kabupaten Pati Kawa Tengah. Bahkan, pria yang hanya lulus "S1" alias sekolah dasar (SD), ini sudah mampu memenuhi salah satu cita-citanya, mendapatkan penghasilan melebihi pegawai negeri. Semua itu membuktikan bahwa Kenji adalah sosok pekerja keras, pantang menyerah dan punya kecerdasan

"Alhamdulillah, saya bisa  menjual kopi tak kurang dari 170 ton/tahun, dengan harga terendah Rp 25.000/kilo, dan hasilnya cukup lumayan", kata Kenji pada semarangsekarang.com, saat ia mengikuti Apkasi Otonomi Expo (AOE) 2019, 3-5 Juli di Jakarta. 

Pria kelahiran Pati Jawa Tengah 17 Maret 1979, ini  memulai budidaya kopi pada 1999. Itu dilakukan karena prihatin dengan kondisinya sebagai tukang bangunan. Di atas tanah tegalan di kaki gunung Muria warisan orangtuanya, ia mulai menanam 1200 pohon kopi. Setelah tiga tahun tanaman kopi yang dirawatnya mulai memberi hasil. Di atas lahan tersebut Kenji pernah memanen hingga 1,5 ton biji kopi basah. 

Menyadari prospek komoditas kopi semakin cerah, Kenji pun makin giat bekerja. Sebagian hasil keringatnya ia belikan tanah untuk menambah jumlah lahan yang dimiliki. Kini,  lahan kopinya yang terletak di kaki gunung muria telah bertambah menjadi 9 hektar, dan terletak ditiga kabupaten berbeda. Yaitu,  Pati, Kudus dan Jepara.  
 
“Dalam perjalanan, saya tidak hanya menjadi petani tapi juga pengepul kopi di kabupaten Pati. Praktis, hampir semua kopi dari Kabupaten Pati seluruhnya saya yang beli. Sebagian saya jual langsung ke Pabrik, sebagian lagi saya pasarkan sendiri dengan merek Kopi Kenji”, anak ketiga empat bersaudara pasangan Martosami dan Wartini, ini menambahkan. 

Kenji mengaku, ia belum terlalu mahir dalam mengolah kopi. Karena itu ia   butuh  pengetahuan dan pengalaman yang lebih banyak  agar bisa meningkatkan mutu kopi yang dihasilkannya. Ia juga membutuhkan teknologi yang lebih baik, dari apa yang sudah dikuasainya saat ini. Tetapi, Kenji yakin Kopi dari Kabupaten Pati mampu bersaing dengan kopi-kopi lain di Indonesia. 

“Kopi dari Pati memiliki citarasa yang tak kalah dari kopi-kopi lain di Indonesia. Kalau bisa dikembangkan dengan baik, pasti bisa ikut membangun dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Pati”, tandas Kenji. (m budiono-SS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment