Hoaks Bisa Timbulkan Perpecahan dan Konflik

By Redaksi SS 05 Okt 2018, 18:41:47 WIB Nasional
Hoaks Bisa Timbulkan Perpecahan dan Konflik

Keterangan Gambar : Dari kiri: Fadli Zon (anggota MPR Fraksi Gerindra), Prof Hamdi Muluk (guru besar UI dan pakar komunikasi) dan Komarudin Watubun (anggota MPR Fraksi PDIP) saat diskusi dengan awak media diu press room gedung MPR/DPR/DPD, Jumat (05/10/2018).


Semarangsekarang.com--Pakar komunikasi politik Prof Hamdi Muluk mengatakan, bila masyarakat ingin berpolitik dengan wawasan yang maju dan hasil yang maksimal maka semua harus mengedepankan adu gagasan dengan basis pada data dan fakta. Demikian disampaikan saat jumpa pers dengan tema "Ancaman Hoaks dan Keutuhan NKRI" di Press Room Gedung MPR/DPR/DPD, Jumat (05/10/2018).

Dengan menggunakan data dan fakta menurut Hamdi akan menjauhkan bangsa ini dari godaan informasi yang tak berbasis pada data dan fakta. “Hoaks itu sesuatu yang tak ada data dan faktanya, hoaks juga disebut sebagai informasi kabar burung,” tambah guru besar Universitas Indonesia (UI).

Masalah hoaks perlu diseriusi, dicegah, sebab dampak dari berita yang tak berdata dan berfakta itu bisa memicu kerusuhan sosial. Hamdi menceritakan, kerusuhan yang terjadi di negara Rwanda yang menyebabkan disintegrasi bangsa dikarenakan hoaks yang disebarkan oleh media. “Jadi jelas, hoaks bisa menimbulkan perpecahan dan konflik,” tuturnya.

Hamdi berusaha mendorong masyarakat dalam mengolah informasi harus berbasis data, fakta, dan ilmu pengetahuan. Walau diakui memang ada sebagian masyarakat yang suka dengan gosip. “Acara gosip-gosip di televisi kan disukai masyarakat, untuk itu tugas kita mengedukasi masyarakat,” sarannya.

Menurut dosen UI tersebut, bila ada berita dan kejadian maka berita dan kejadian itu harus dicek dan ricek serta validitasi agar duduk persoalannya menjadi jelas. Cerita dan kejadian di masyarakat yang dibumbu-bumbui memang ada. Hal demikian diakui sebab masyarakat awam senang modus narasi. Untuk itu dirinya mengatakan kembali perlunya mendidik atau mengedukasi masyarakat.

Dalam kasus aktual yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet sehingga menjadi konsumsi publik, dirinya menilai kasus yang ada sebelumnya tidak dilakukan verifikasi. Seharusnya Ratna Sarumpaet didorong melapor ke aparat hukum lebih dahulu. “Kalau belum diverifikasi maka yang dibangun adalah narasi politik”, ucapnya.

Jangan standar ganda

Sementara pada Fadli Zon, Anggota MPR dari Fraksi Gerindra, kesempatan tersebut juga menyampaikan bahwa hoaks adalah masalah bersama. Untuk itu pemberantasan hoaks harus mempunyai standar yang sama. “Jangan menggunakan standar ganda”, tegasnya. Dia juga mengiungkapkan ada 6 hoaks yang menimpa dirinya telah dilaporkan kepada aparat hukum, polisi. ”Kali pertama saya melaporkan pada 1 Mei 2017,” ujarnya,

Meski dirinya sudah melaporkan kepada polisi namun alumni Universitas Indonesia itu heran sampai di mana proses hukumnya. Ia membandingkan dengan kasus pengusutan Ratna Sarumpaet yang begitu cepat kurang dari 24 jam tuntas. “Saya sudah melaporkan namun tak ada kejelasan, seharusnya semua masalah diusut seperti itu,” ujar alumni London School of Economics and Political Science itu.

Mengenai Ratna Sarumpaet, Fadli sebelumnya percaya pada perempuan seniman itu. Dikatakan banyak perjuangan yang dilakukan seperti membela warga Kampung Aquarium Jakarta. Menurut Fadli, sebagai wakil rakyat dirinya mempunyai kewajiban untuk menerima semua pengaduan masyarakat. Ketika disinggung soal verifikasi, lembaga yang dipimpinnya itu tak punya badan yang melakukan itu. “Tugas kita adalah menyampaikan aspirasi”, tegasnya. Disampaikan pula kepada peserta diskusi bahwa dirinya telah mendorong Ratna Sarumpaet melapor polisi dan melakukan visum bila benar-benar dianiaya orang.

Atas sikap bohongnya Ratna Sarumpaet, dirinya sangat menyesal. “Kita tak menyangka orang sekritis itu melakukan kebohongan,” sesalnya. Fadli menyebut dalam masalah ini sebagai korban hoaks.

Sedangkan menurut Komarudin Watubun, anggota MPR Fraksi PDIP mengatakan, masalah Ratna Sarumpaet adalah masalah yang biasa. “Lebih penting peduli pada musibah bencana yang terjadi di Indonesia,” ungkapnya. Kasus itu membesar menurutnya karena ada orang-orang besar yang dibohongi. Karena yang membela kubu Prabowo Subianto membuat isunya menjadi ramai.

Watubun tak khawatir dengan masalah itu. Dikatakan sebenarnya Prabowo Subianto dan Joko Widodo telah memberi teladan persatuan bagi bangsa Indonesia. Dituturkan saat Asian Games mereka berdua berpelukan. “Itu pesan perdamaian,” tegasnya. (mbd-SS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment