Kisah Sedih Dibalik Sukses Ratu Panggung
Puji Maharani, Bintang Pantura asal Pekalongan

By Redaksi SS 12 Apr 2018, 13:13:06 WIB Tokoh / Profil
Kisah Sedih Dibalik Sukses Ratu Panggung

Keterangan Gambar : Puji Maharani, selalu berusaha menjaga diri dan pernah punya pengalaman dijambret orang sepulang dari menyanyi. (dok)


Semarangsekarang.com--Jangan pernah meremehkan orang lain, betapapun kecilnya dia. Karena kita tidak pernah tahu takdir yang dipersiapkan Tuhan kepadanya. Itulah sebait pesan yang bisa disarikan dari lorong perjalanan hidup seorang Puji Maharani, biduanita dan bintang panggung asal Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan.

Nama Puji sesungguhnya sudah banyak dikenal para penikmat musik dangdut. Namun ketenarannya, itu kian meroket bak pesawat ulang alik, setelah keberhasilannya mengikuti ajang "Bintang Pantura". Sejak itu, ke manapun anak ketiga dari tiga bersaudara pasangan Nur Slamet Hidayat dan Srikah berada, ada saja anggota masyarakat yang meminta berswa foto bersama.

Kesenangan, kehidupan glamour dan kegiatan panggung Puji yang sangat padat membuat orang lupa, bahwa sesungguhnya ia kudu bekerja keras untuk sampai pada kesuksesannya kali ini. Bahkan, orang juga tidak menyangka jika istri dari Anas Kurniawan, ini pernah mengalami masa-masa yang sangat mengharu biru.

“Saya berasal dari keluarga broken home. Saya ditinggal ibu saya saat berumur satu tahun. Dan sejak itu hidup saya bersama dua kakak saya bergantung pada mbah Wastari dan Marsiti, yang tak lain adalah kakek nenek saya”, kenang Puji, saat mengisahkan perjalanan hidupnya kepada semarangsekarang.com.

Meski mengharukan, namun perjalanan penyuka pisang dan buah naga, ini cukup beruntung, karena ia hidup bersama orang-orang yang menyayanginya. Buktinya kakek dan neneknya itu mampu menghidupi dan menyekolahkan Puji. Hingga akhirnya perempuan kelahiran Pekalongan 15 Desember 1992, ini mengalami lompatan kesuksesan dalam hidupnya.

“Waktu SMP, sekitar tahun 2006, saya nyanyi di depan teman dan guru. Esoknya saya diajak ikut lomba menyanyi, mewakili SMP 1 Tirto, dan juara satu tingkat Kabupaten Pekalongan. Kemudian saya mewakili Kabupaten Pekalongan lomba tingkat provinsi dan saya juara ketiga”, kata mantan siswi SMK Gatra Praja, Pekalongan itu lagi.

Keberhasilan itu membuat mata semua orang terpana melihat kemampuan Puji menyanyi. Alhasil, Puji pun diminta untuk menyanyi di hadapan umum. Pertama kali ia mendapat bayaran menyanyi waktu itu sebasar Rp 25.000. Dan sejak tawaran menyanyi terus mengalir, sehingga saat SMA, Puji sudah bisa membayar biaya sekolahnya sendiri.

Tetapi, selain kesuksesannya, itu Puji juga kerap mengalami cobaan. Ia pernah dijambret sepulang dari menyanyi. Beruntung, kala itu sang jambret salah ambil, sehingga tas yang berisi sepatu saja yang hilang. Cobaan lain kerap datang dari para penyawer, yang selalu berbuat jahil.

“Ada yang suka memberi uang tetapi sambil colak colek, kurang senonoh. Alhamdulillah saya tidak hanyut. Saya bisa menjaga diri, karena tidak mungkin juga saya marah”, kata perempuan cantik berusia 25 tahun itu.

Kini puji tengah dalam masa keberhasilan yang sangat besar, karena banyaknya permintaan untuk menyanyi. Tiap hari, siang malam, order menyanyi, itu terus berdatangan. Mobil, rumah, kendaraan sudah ada dan pundi-pundi tabungannya juga terus bertambah. Ia berharap, satu hari bisa membahagian kedua orangtuanya, meski mereka telah memiliki keluarga masing-masing. (mbd-SS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment