Lebih Dekat Dengan Lita Tyesta ALW
Dr Lita Tyesta Adi Listiya Wardhani.

By Redaksi SS 02 Nov 2017, 18:47:11 WIB Tokoh / Profil
Lebih Dekat Dengan Lita Tyesta ALW

Keterangan Gambar : Dr Lita Tyesta Adi Listiya Wardhani.


PEREMPUAN  ini   terlihat tetap cantik diusianya yang ke 57, September lalu. Meski begitu tenaga dan semangatnya, jauh lebih muda dibanding umurnya. Buktinya selain menjadi dosen di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (UNDIP), ia memiliki kegiatan lain yang  seabrek-abrek. Begitulah sosok seorang Dr.  Lita Tyesta Adi Listiya Wardhani.

Selain mengajar Lita tercatat sebagai  Pembina Pramuka di Lingkungan Undip, Pengurus Kwarda Jawa Tengah, Tenaga Ahli di DPRD Jawa Tengah, Evaluator pendirian PTS di Kemenristek, hingga pengurus PKK dan jamaah pengajian dilingkungan rumahnya kawasan Tengger Utara,  Candi Semarang.

Lita merupakan anak pertama dari seorang ayah yang berprofesi sebagai guru, dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Ia lahir  di Purwokerto,   26 september 1960. Saat usianya menginjak empat tahun, Lita  harus mengikuti ayahnya ke Irian Barat (Jayapura),  sebagai sukarelawan Trikora, dengan tugas   membebaskan masyarakat Irian dari buta huruf dan buta aksara.

Selama empat tahun  berada di wilayah konflik di Jayapura, Lita kerap merasakan suasana mencekam. Ia sering dilarang ke luar rumah karena kondisi bahaya, dipaksa tiarap karena bising suara mesiu hingga hidup penuh keterbatasan.

“Saya pulang sama ibu, sementara ayah masih di sana”, kenang Lita saat dipaksa harus berpisah dengan ayahnya.

Kembali dari Irian Barat, Lita dan ibunya tinggal di Majenang. Majenang adalah kota kecil,   di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia. Kota kecamatan, ini adalah batas ujung barat   Jawa Tengah dengan   Jawa Barat. Kecamatan ini merupakan jalan utama lintas provinsi antara Jateng dan Jabar yang dihubungkan dengan Cilacap dan Banjar.  

Di Majenang Lita tinggal bersama eyangnya, seorang kepala sekolah SD setempat. Hidup jauh dari ayahnya, tak membuat Lita kecil bisa seenaknya.Pasalnya sang eyang, mengajarkan  kedisplinan yang ketat. Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1970, ayahnya kembali, dan itu membuat Lita harus  pindah ke Semarang.

Bangga Menjadi Guru 

Saat pindah ke Semarang, Lita sudah duduk di  kelas 3 SD. Saat itu it telah memiliki 3 orang adik laki-laki. Sebagai anak sulung dan satu-satunya perempuan, Lita diberlakukan sangat keras dan disiplin oleh ayahnya. Jangankan untuk bermanja-manja untuk bermalas-malasan pun Lita tidak bisa.  Pagi hari Lita harus mengasuh adik-adiknya yang masih kecil. Sementara pulang sekolah membantu ibunya menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Seperti  mengepel, menyapu bahkan membantu memasak.

“Hal itu  membuat saya menjadi pribadi  mandiri.  Ayah   selalu mendorong  dan memacu saya belajar  lebih giat. Beliau  berpesan,  tidak bisa mewariskan  harta.  hanya bisa memberi bekal  ilmu. Maka rajinlah, karena ilmu bisa membuat kita lebih hebat”, kata Lita menirukan nasuhat bapaknya.

Sejak itu Lita makin giat belajar. Ia bertekad akan membahagiakan orangtuanya.  Kesadaran seperti itu muncul ketika ia  duduk di bangku SMA. Berbekal tekad itulah, Lita selalu masuk tiga besar di kelasnya. Dan apa yang diharapkanpun terjadi. Saat mengambil rapor, Lita melihat Bapaknya sangat bangga, setelah tahu anaknya  masuk tiga besar.  

Tahun 1979 Lita masuk ke  Fakultas Hukum  Undip. Untuk mengisi waktu luang, ia  mengikuti berbagai kegiatan di luar  perkuliahan. Salah satu yang ia gandrungi adalah berkegiatan di Pramuka (Racana Diponegoro).  Melalui Pramuka Lita  mendapat   banyak pelajaran berharga. Sejak itu ia makin paham  bagaimana saling berbagi, sharing ilmu, belajar berorganisasi, memimpin, bergaul, berbagi peran, hingga memahami orang banyak dengan berbagai kharakter.

Praktis  waktu di luar kuliah  digunakan di Pamuka dan  kegiatan kemahasiswaan yang lain seperti di GMNI, koperasi mahasiswa dan Badan Perwakilan Mahasiswa (BEM waktu itu).

“Dari situ saya mendapat kesempatan   menjadi Assisten Dosen dan akhinya menjadi Dosen beneran di FH Undip tanpa susah payah”, kata Lita menambahkan.

Sebagai dosen, Lita Bangga dengan profesinya. Ia merasa, Sebagian darah yang mengalir dalam dirinya, adalah darah para guru. Karena bapak dan eyangnya adalah guru. Karena itu menjadi dosen merupakan salah satu kebanggan tersendiri bagi Lita. Ia merasa bisa meneruskan kemuliaan dalam keluarganya, sebagai guru.(mbd-SS)

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment