Manajemen dan Tim Pelatih Kunci Kebangkitan PSIS
Torehan penting PSIS di Liga 1 2018 (bagian 1)

By Redaksi SS 11 Des 2018, 14:14:54 WIB Semarangan
Manajemen dan Tim Pelatih Kunci Kebangkitan PSIS

Keterangan Gambar : Manajemen PSIS Semarang saat berlaga di kandang Persebaya Stadion Gelora Bung Tomo berfoto diantara maskot Bajul Ijo dan Mahesa Jenar. Dari kiri: Wahyu "Liluk" Winarto, Yoyok Sukawi, Khairil Anwar dan Setyo Agung Nugroho. (dok: psisfcofficial)


Semarangsekarang.com--Di awal musim kompetisi Liga 1 Tahun 2018, manajemen PSIS lewat CEO Yoyok Sukawi mematok target berada di posisi 10 Besar, saat launching jersey PSIS. Namun setelah bergulirnya kompetisi target itu direvisi dengan target lepas dari zona degradasi. Dan target lepas dari degradasi tercapai bahkan di klasemen akhir tim Laskar Mahesa Jenar tepat berada di posisi 10 dengan raihan 46 poin dari 34 laga yang dimainkan.

“Kita targetkan tahun ini kita berada di 10 Besar, karena sebagai tim promosi target ini cukup realsitis,” demikian disampaikan Yoyok Sukawi, CEO PSIS menjelang bergulirnya Liga 1 pada bulan Maret 2018 silam.

Meskipun terseok-seok pada 16 laga pertama, dan hampir selama empat bulan awal menjadi langganan penghuni zona merah membuat pihak manajemen sempat merevisi target dari 10 Besar menjadi yang penting lolos degradasi. Namun setelah menjalani laga away ke kandang PSMS Medan, usai membekap tuan rumah 3-2, yang juga merupakan kemenangan pertama PSIS di laga tandang, sekaligus awal dimulainya tren positif permainan Laskar Mahesa Jenar, sekaligus membuat asa dan optimisme.

Sebelumnya laga lawan PSMS dengan pelatih baru Jafri Sastra, Yoyok Sukawi sempat berpikir keras untuk mengatasi masalah yang ada dikubu PSIS Semarang, terlihat dari curhatan Ketua Komisi E DPRD Jateng tersebut yang baru di ungkapkan pada laman instagramnya, Senin (10/12/2018).

..Puncaknya, akhir putaran pertama, kita menambah pemain seperlunya sesuai kebutuhan, hal ini dianggap management tdk mampu merekrut pemain bintang, tdk py uang, bahkan ada orang datang u/ sumbang uang krn beranggapan klub tdk mampu membeli pemain, astaghfirullah... Selanjutnya putaran kedua dimulai dgn konsentrasi penuh, evaluasi menyeluruh, kami berikan pelatih 2 match tambahan u/ mengangkat tim dari keterpurukan, namun gagal, maka diputuskan perombakan pelatih Keputusan merekrut pelatih baru berpengalaman dgn kemampuan komunikasi teruji namun dianggap lagi sebagai ketidakmampuan finansial management Evaluasi2 dilakukan, ikhtiar & doa, komunikasi tim baik, semangat, dukungan, management all out, pelan pasti, peningkatan performa & prestasi. Kemenangan2 kejutan kita raih, hinaan menjadi pujian, tekanan menjadi kekuatan, PSIS telah kembali disegani, ditakuti, pemain2 kasta kedua menjadi pemain2 bintang, Alhamdulillah….

Adalah Jafri Sastra yang menjadi suksesor Vincenzo Alberto Annese yang membuat harapan PSIS makin membumbung. Komunikasi yang intens dan strategi yang tepat dari seorang pelatih Jafri Sastra membuat target 10 Besar tergapai.

Pelatih yang berasal dari Payakumbuh, Sumatera Barat ini sempat dipandang sebelah mata oleh beberapa pihak. Karena pelatih yang sebelumnya menjadi arsitek kesebelasan  Liga 2 Persis Solo ini, levelnya dianggap masih dibawah Alberto Annese. Jafri berlisensi AFC sementara Vincenzo berlisensi UEFA Pro.

Bangga

Ada hal yang luar biasa dan pantas menjadi kebanggaan masyarakat Semarang dibuktikan dengan akhir manis pada tabel klasemen akhir. PSIS mampu finish diatas kesebelasan yang para pemainnya bernilai mahal seperti Bali United, atau klub pemilik juara terbanyak di era kompetisi liga Indonesia Persipura Jayapura dengan empat kampiunnya. Bahkan Mitra Kukar dan Sriwijaya FC yang terkenal dengan harga pemainnya yang mahal ternyata tak mampu bertahan di Liga 1 tahun 2018.

Dalam instagram milik CEO PSIS, A.S. Sukawijaya Yoyok Sukawi, tidak bisa menyembunyikan kebanggaan, karena selama ini PSIS dianggap tim gurem atau tim yang sempat dipandang sebelah mata oleh beberapa pihak terutama ketika tengah terpuruk. Namun bukti telah menunjukkan bahwa kerja keras tak pernah membohongi hasil.

Di instagram pribadinya Yoyok mengungkapkan, 2018 musim berat u/ PSIS, jadi tim musyafir lemahkan finansial & kekuatan utama bermain dikandang. Persiapan yg terlambat akibat mepetnya jadwal final liga 2 sulitkan berburu pemain baru. Awal musim PSIS dianggap tim lemah, pemain kasta kedua, buangan, miskin, sekedar mampir minum, kampungan, bahkan sebagian pendukung pesimis bisa bersaing melawan raksasa2 Liga 1. Masalah dtg silih berganti, pergantian pelatih, disusul ketidak percayaan sebagian pendukung terhadap management....".

Sementara di ig yang lain ia juga mengungkapkan kebanggaan Yoyok kepada seluruh pemain dan manajemen yang telah berjuang selama gelaran liga 1 tahun ini.  Perjalanan PSIS liga 1 2018 from Zero to Hero, Alhamdulillah”. (faf-SS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment