Mantan Penjual Soto Betawi Ikut Pilkades Langkap
Moh Yahys

By Redaksi SS 26 Okt 2019, 07:47:30 WIB Tokoh / Profil
Mantan Penjual Soto Betawi Ikut Pilkades Langkap

Keterangan Gambar : Moh Yahya, mantan pedagang soto betawi yang msju ke pilkades Langkap


Semarangsekarang.com - “Rezeki, jodoh dan mati adalah rahasia illahi, kita manusia hanya pasrah menerimanya,” itulah yang disampaikan Moh. Yahya saat dihubungi semarangsekarang.com,

Pernyataan itu disampaikan, melihat perjalanan hidupnya sendiri, dengan berbagai lika-likunya. Meski pernah membanting tulang dan merantau  hingga ke Jakarta, ternyata Allah memberikan jalan hidup yang tenang kepada bapak tiga anak ini, di daerah kelahirannya sendiri,  tanah tumpah darahnya,  Desa Langkap, Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan. 

Yahya, begitu ia biasa disapa pernah membuka usaha konveksi di Jakarta. Itu dilakukan, tepat selepas dari SMA Negeri Kedungwuni. Kepala dusun Langkap, Desa Langkap itu  merantau ke Ibu Kota untuk memproduksi celana Hawai. Namun usaha itu tak berjalan mulus, hingga akhirnya Yahya pun gulung tikar. 

Lepas dari usahanya yang bangkrut, pria kelahiran 28 Maret 1970,  ini tak mau berpangku tangan. Ia bekerja secara serabutan, kadang jadi buruh jahitan, kadang ikut berjualan. Intinya, apa saja yang bisa buat makan dan khalal. 

Di tengah ketidak jelasan status, tepatnya tahun 1997, Yahya bertemu dengan Jamillah, perempuan asal Betawi. Dari mata turun ke hati, begitulah yang dirasakan oleh Yahya saat itu. Rupanya pandangan pertama itu membuat Yahya Jatuh hati  dan segera meminang Jamillah menjadi Istrinya. 

Setelah resmi menikah, anak kelima dari delapan bersaudara pasangan Mushari dan Wasdumi, ini hidup mandiri meski harus tingggal di rumah kontrakan. Untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, bersama istrinya, Yahya membuka usaha Soto Betawi di rumah yang dia kontrak,   bilangan ITC Roxy Mas Jakarta Barat. 
 
“Saya berprinsip,   berani menikah harus berani mandiri. Makanya seperti pengalaman pribadi, sebaiknya menikah itu kalau sudah punya pekerjaan dan penghasilan tetap,” kaya Moh. Yahya menmbahkan. 
 
Masa awal pernikahan banyak cobaan yang harus dihadapi Yahya, khususnya masalah ekonomi keluarga. Pasalnya, warung Soto yang dia buka tak selamanya ramai pengunjung. Itu membuat ekonimi keluarga kerap limbung, apalagi jika ada kebutuhan mendadak. 

“Rasanya sedih kalau mengingat masa itu. Pernah beberapa kali tidak bisa mudik lebaran lantaran tidak ada biaya. Pernah juga  anak saya sakit, tapi tidak memiliki cukup uang untuk berobat, sehingga terpaksa ngutang ke sana sini. Tapi semua itu jadi pengalaman berharga,” kata Yahya lagi. 

Sepuluh tahun berjualan Soto Betawi, tepatnya tahun 2006 Alumni SMAN Kedungwuni Pekalongan,  ini memutuskan pulang kampung. Ia memilih mengolah sawah sekaligus menjadi Ketua Dusun. Itu dilakukan, karena ingin berkontribusi membangun Desa Langkap. Berkat prestasi yang bagus, satu tahun menjabat sebagai Kepala Dusun, pada 2007 Yahya diangkat  menjadi Bendahara Desa hingga 2018. 

“Saya ingin berkontribusi lebih besar dalam memajukan desa. Meningkatkan kemakmuran petani dengan jalan memberikan pelatihan, dan bantuan alat pertanian, agar hasil panen mengalami peningkatan. Juga mengajak warga yang berpendidikan, bergotong royong dan berpartisipasi memajukan desa Langkap,” kata Yahya lagi.

Selama tiga belas tahun mengabdi untuk masyarakat desa Langkap, Yahya sudah sangat berpengalaman dalam melaksanakan pembangunan. Apalagi, selama ini dia memegang peran vital dalam pelaksanaan berbagai proyek pembangunan. Seperti pembangunan jalan,  pembuatan Turap, pembangunan pondasi, hingga sarana sosial lainnya. Intinya, Yahya adalah sosok yang sangat berpengalaman dan mampu melaksanakan percepatan pembangunan bagi desanya. (m budiono-SS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment