Memilih Mengabdi Sebagai Kamituwo di Desa
Sunarto SH

By Redaksi SS 26 Apr 2018, 14:26:35 WIB Tokoh / Profil
Memilih Mengabdi Sebagai Kamituwo di Desa

Keterangan Gambar : Sebagai seorang kamituwo dirinya senantiasa melayani masyarakat 24 sehari, termasuk ketika kabanyakan orang sedang istirahat dia tetap siap dalam tugasnya.


Semarangsekarang.com--Sebagai kepanjangan tangan kepala desa yang langsung berhubungan dengan masyarakat, seorang kepala dusun (kadus) atau kamituwo, harus memiliki kesabaran dan sifat pengayoman. Kalau tidak, banyak persoalan kecil yang bisa berubah menjadi besar.

Kalau dibiarkan bisa-bosa banyak persoalan mudah menjadi susah. Begitulah sifat dan sikap yang kini terus dikembangkan oleh Sunarto SH,  sebagai seorang kamituwo di lingkungan Dukuh Krajan, Desa Blingoh, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara. 

Karena itu, Narto begitu ia biasa disapa siap sedia untuk melayani masyarakat. Termasuk pada saat umumnya orang beristirahat, dirinya tetap siap 24 jam. 

“Secara umum ten mriki, aman-aman saja. Hanya memang pernah ada penggerebekan oleh warga terkait kegiatan mesum. Sepanjang bisa diselesaikan dengan damai, kami musyawarahkan. Tetapi kalau sudah masuk ranah pidana, kami teruskan kepada aparat yang berwenang,* kata Narto.

Sebagai aparat desa, menurut Alumni Fakultas Hukum Untag Semarang, persoalan yang sering terjadi di lingkungannya adalah masalah pertanahan. Karena itu dirinya senantiasa berhati-hati dalam mengurus masalah tanah. 

“Saya selalu berusaha mencari tahu asal usul dan sejarah kepemilikan tanah dimasyarakat,” kata bungsu dua bersaudara pasangan Angkam dan Sugiman menambahkan. 

Sebagian persoalan tanah, kata pria yang berusia 45 tahun ini terjadi karena pemiliknya mengagunkan sertifikat ke bank. Kemudian, tanah tersebut dijual ke orang lain, sehingga terjadilah kasus sertifikat ganda. 

Sunarto sendiri terpilih sebagai Kamituwo sejak 2013. Suami dari Wahidatunnisa, ini menerima pekerjaan, itu karena ia senang  hidup di desa. Alasannya karena didesa itu tenang, budaya gotong royong dan saling menghargai masih sangat terasa. Tidak seperti dikotak yang bising dan serba individu. (mbd-SS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment