Menagih Janji, Bagi Para Honorer K2
Joni Setiawan SPd

By Redaksi SS 16 Mei 2018, 20:36:34 WIB Tokoh / Profil
Menagih Janji, Bagi Para Honorer K2

Keterangan Gambar : Honor Joni Setiawan Rp 50 ribu perbulan sebagai tenaga pengajar sama ketika berjualan batagor perhari dapat Rp 50 ribu. Namun karena kecintaan pada dunia pendidikan dia ambil resiko tersebut.


Semarangsekarang.com--Ribuan guru honorer tengah menunggu janji pemerintah untuk mengangkat mereka menjadi Pegawai Negeri Sipil. Salah satunya adalah Joni Setiawan SPd, guru bantu di SDN  Kali Pucang Kulon, Kabupaten Batang. Sudah 13 tahun ia menjadi guru honorer di sekolah tersebut. Dan sudah beberapa kali ia mengikuti tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), tetapi asa untuk meraih predikat PNS, itu jauh panggang dari api. 

"Sejak dulu saya memang ingin jadi guru. Makanya saat ada kesempatan saya langsung manfaatkan, meskipun saat itu, saya hanya digaji Rp. 50.000 per bulan. Padahal, sebelum  menjadi guru, saya jualan batagor, hasilnya Rp. 50.000 per hari. Tapi karena saya cinta dunia pendidikan risiko itu saya ambil," kata suami dari Titik Astriani, SSi saat menuturkan perjalanan hidupnya kepada semarangsekarang.com

Berbagai upaya dilakukan Joni untuk menjadi PNS, termasuk  menagih janji pemerintah. Sudah dua kali dia ikut demo ke Jakarta, menuntut janji pemerintah itu direalisasikan. Masing-masing pada Februari 2015 dan Juli 2017. Tetapi, itu belum cukup, dia masih akan terus turun ke jalan, menuntut pemerintah mengangkat seluruh guru honorer K2 menjadi PNS. 

Bahkan dalam waktu dekat aksi turun ke jalan itu akan kembali dilakukan. Sekaligus memanfaatkan tahun politik 2019, agar para capres mau melakukan kontrak politik mengangkat guru honorer menjadi PNS, jika mereka terpilih nanti. 

Bagi pria kelahiran Batang  11 Juni 1982, dunia pendidikan sudah dikenalnya sejak lama. Pasalnya, sang ayah adalah penjaga sekolah di SD Negeri Proyonanggan 06 Kecamatan Batang. Karena itu ia tinggal di rumah dinas sekolah. 

"Semua proses pendidikan, seluruhnya membuat saya senang. Satu-satunya yang membikin saya sedih menjadi guru adalah gagal terus dalam tes CPNS. Padahal, rasa-rasanya saya tidak kalah dengan mereka yang sudah diterima. Barangkali inilah yang namanya nasib," kata anak kedua dari 7 bersaudara pasangan Sukadi dan Munandiyah (alm) menambahkan. 

Bahkan, ketika pertama mengajar pun sesungguhnya ia tidak pernah  terbersit sedikitpun jadi PNS. Tetapi karena perubahan zaman, ditambah ada janji pemerintah, maka keinginan menjadi PNS, itu muncul. Sejak itu, keinginannya menjadi abdi negara semakin besar. Ia akan terus mengupayakan, meski harus melaluinya dengan cara menggelar demo ke Jakarta. Rawe-rawe rantas malang malang putung. Sekali layar terkembang pantang surut ke belakang. (mbd-SS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment