Mengajar Dahulu, Touring Kemudian
Budi Jatmiko, guru yang juga ketua klub motor

By Redaksi SS 24 Apr 2018, 20:42:53 WIB Tokoh / Profil
Mengajar Dahulu, Touring Kemudian

Keterangan Gambar : Meski suka motor antik dan kegiatan touring, bagi Koko menjadikan para muridnya sebagai bunga bangsa masa depan merupakan tugas mulianya sebagai seorang guru.


Semarangsekarang.com--Ada yang unik dari sosok seorang Budi Jatmiko, Guru kelas VI di SDN Kali Pucang Kulon, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang Provinsi Jawa Tengah. Selain sebagai guru, Koko begitu sapaan anak pertama dari empat bersaudara pasangan Drs Eko Murdiyanto dengan Yulia Suprapti, ternyata memiliki hobi komunitas motor antik. Bahkan diantara sejawat dalam klub motor Mr Roban, nama komunitas itu, Koko sudah didaulat menjadi ketuanya, selama dua periode.

“Saya sempat tanya pada ulama, apakah boleh saya yang seorang guru ikut dalm komunitas klub motor. Pertanyaan itu muncul karena selama ini beberapa klub motor memang menjurus pada kegiatan yang kurang baik. tetapi ternyata boleh, asal sebatas hobi dan tidak melanggar kaidah agama,”kata suami Arifa Hananie, ini ketika dihubungi semarangsekarang.com, Senin (23/4/2018).

Sejak itu, pria kelahiran Batang 3 Agustus 1981, ini makin menggandrungi hobinya terhadap motor antik, bersama komunitas Mr Roban yang dia dirikan bersama empat rekannya pada 2011. Bahkan kegiatannya touring mengendarai Kawasaki Binter Mercy tetap berjalan.

“Setiap tahun kami mencari dana untuk disalurkan kepada panti asuhan. Inilah salah satu misi sosial yang coba kami pertahankan dari waktu ke waktu,” kata pria berusia 36 tahun tersebut.

Seperti anggota klub motor pada umumnya, Koko dan Mr Roban pun terus mencari tantangan dalam ber-touring. Tetapi touring yang dilakukan, tetap memegang norma dan kepatutan. Koko dan seluruh anggota klub motornya, wajib mengenakan atribut yang jelas. Tujuannya agar identitas mereka bisa dikenali. Selain itu, mereka senantiasa mematuhi rambu lalulintas, termasuk menganakan helm.

Meski mencintai touring dan kopdar, tetapi Koko tidak pernah mengorbankan tugasnya mengajar. Bahkan ia sangat mencintai pekerjaannya itu setulus hati. Ini ia buktikan semasa masih menjadi guru honorer dengan gaji Rp.50.000/bulan tetap dia lakoni.

“Kalau sudah berada di depan kelas, melihat wajah anak-anak yang tulus mencari ilmu, semua persoalan yang kita hadapi luluh, termasuk persoalan gaji yang kecil. Yang ada, kami hanya ingin mengajar, menjadikan mereka bunga-bunga bangsa yang akan mekar dimasa depan,” kata Koko lagi.

Padahal gaji sebesar itu ia terima dari pertama kali jadi guru tahun 2004 hingga 2007. Baru pada tahun 2007, gajinya naik menjadi Rp.250.000/bulan hingga tahun 2011.

Alhamdulillah tahun 2014, setelah lima kali mengikuti tes CPNS saya diterima menjadi pegawai negeri. Mudah-mudahan semangat saya mengajar terus menyala”, kata Koko menambahkan. (mbd-SS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment