Pelatihan Ketrampilan Penghuni Argorejo dan GBL
Pembekalan sebelum rencana penutupan lokalisasi

By Redaksi SS 19 Agu 2018, 16:42:25 WIB Semarangan
Pelatihan Ketrampilan Penghuni Argorejo dan GBL

Keterangan Gambar : Para anak asuh saat mengikuti pelatihan ini bertempat di Balai Kelurahan Kalibanteng Kulon.


Semarangsekarang.com—Pemerintah dalam hal ini Pemkot Kota Semarang melalui Dinas Sosial mengadakan pelatihan pembuatan tas dari tali kur yang diikuti oleh anak asuh dari lokalisasi Sunan Kuning.  Kegiatan ini dilakukan dalam upaya mengentaskan anak asuh di lokalisasi tidak hanya yang dari Sunan Kuning saja, namun juga Rowosari atau Gambilangu (GBL). Pelatihan ini bertempat di Balai Kelurahan Kalibanteng Kulon. Beberapa waktu lalu.

Tujuan pelatihan pembuatan tas dari tali kur ini nantinya bisa dimanfaatkan ketika anak asuh keluar dari lokalisasi. Ada 50 orang yang dibagi dalam lima kelompok. Namun secara keseluruhanada 600 orang dari lokalisasi Argorejo berjumlah 480 orang dan sisanya berasal dari Rowosari atau Gambilangu ada 120 orang.

“Mereka itu belajar mengerjakan tas yang terbuat dari tali Kur sehingga setelah keluar nantinya bisa dipraktekkan dan bisa menjadi mata pencaharian bagi mereka,” kata kepala Dinas Sosial Tommy Y Said.

Tommy juga menambahkan bahwa dengan kegiatan semacam ini paling tidak ini sudah menjadi salah satu upaya Dinsos terkait dengan rencana penutupan resosialisasi Argorejo maupun Rowosari. Langkah yang diambil salahsatunya memberikan pembekalan kepada anak asuh sebagai bekal. 

“Jadi ini merupakan suatu persiapan untuk mereka kalau sudah tidak ada ditempat ini. Sehingga secara bertahap dilakukan pembinaan dan pelatihan ketrampilan sesuai dengan keinginan mereka ada yang tataboga, handycraf dan sebagainya. Dan mereka yang sudah keluar karena memiliki keinginan untuk mandiri dan itu harapannya kedepannya seperti itu. Tidak secara terus menerus bekereja di lokalisasi ini,” harap Tommy.

Untuk pelatihan ini tahapannya berbeda karena disesuaikan dengan permintaan dari anak asuh dan ada yang menghendaki pelatihan tataboga, handycraf dan itu disesuaikan dengan permintaan dan keinginan dari mereka. 

“Kita tidak mungkin memaksakan mereka harus inikarena dia tidak fokus kesitu tetapi kalau mereka sudah misalnya mau ketrampilan ini. Dan mereka itu sudah mempunyai ketrampilan lain dan sudah punya pasar,” tambahnya.

Pembuatan keset itu sendiri merupakan tambahan bagi mereka sehingga nantinya bisa membantu untuk memasarkan melalui online dengan kriteria yang sudah sesuai dengan instruktur dari Bernama Senopati yang telah ditetapkan. 

“Ini merupakan peluang yang bagus buat mereka. Kalau sudah mandiri maka bisa online sendiri.  Kalau potensi bagus maka produk ini siap untuk memasarkan dan hasilnya yang sudah selesai dan sudah memenuhi pernyaratan tinggal kreatifitas mereka, mungkin kecepatan mereka dan ini meruapakan latihan pertama. Tetapi kalau sudah cepat makanya kurang dari satu jam sudah selesai,” tandas Tommy. (faf/mnr-SS)

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment