Pemilik Usaha di Komplek Gambilangu Resah
Menyusul rencana penutupan total komplek GBL

By Redaksi SS 24 Jun 2019, 21:24:51 WIB Semarangan
Pemilik Usaha di Komplek Gambilangu Resah

Keterangan Gambar : Kermaian usaha di salahsatu sudut di kawasan komplek Gambilangu Semarang.


Semarangsekarang.com - Warga di sekitar komplek Lokalisasi Gambilangu yang terletak di perbatasan kota Semarang dan Kendal kini mulai resah dengan kabar rencana penutupan lokasi prostitusi tersebut.

Dion, salah satu warga di Gambilangu menyatakan, pada umumnya  masyarakat mulai resah karena mata pencaharian akan terganggu bila rencana penutupan komplek itu benar-benar dilakukan oleh pemerintah kota Semarang.
Menurut Dion, dampak rencana penutupan itu membuat situasi di komplek menjadi sepi.
“Warga sini masih was-was dengan rencana penutupan pemkot, kami masih bingung karena menunggu adanya pertemuan hari Selasa (25/6/2019)” kata Dion.

Ketua RW 6 Kecamatan Mangkang Kulon Siti Rusma Daryani mengatakan, kendati ada rencana penutupan namun sebagian warga menginginkan agar perekonomian warga bisa terus hidup sehingga pemkot perlu memberikan solusi yang terbaik.

“Kami berharap agar rencana penutupan ini tidak mematikan perekonomian warga di sini,” kata Risma.

Banyak beralih profesi

Sementara itu Ketua Lokalisasi Gambilangu (GBL) Kaningsih  mengatakan praktik prostitusi di Gambilangu yang sudah berlangsung sejak tahun 1980 lalu sudah menurun dan mulai sepi pengunjung.

Menurut Kaningsih, sekarang ini tamu sudah  jarang yang datang  sehingga kebanyakan warga mengalihkan usahanya dengan  membuka tempat karaoke saja. 

“Praktek begituan di sini sudah jarang ya,  karena tidak ada tamu yang datang namun  kalau  mereka ingin   esek-esek ya dilayani, tapi sejauh ini sepi dan jumlahnya tidak seramai dulu,” kata Kaningsih kepada semarangsekarang.com

Berdasar catatan Kaningsih, di komplek Gambilangu setidaknya ada 86 wisma yang difungsikan untuk karaoke,  sedangkan untuk tarif karaoke di komplek Gambilangu rata-rata berkisar Rp.60.000 per jam.

Kaningsih mengatakan jumlah Wanita Pekerja Seks (WPS) sekitar 140 yang saat ini sebagai pemandu karaoke. 
Kaningsih mengakui dengan adanya lokalisasi ini membuat usaha di lingkungan tersebut menjadi ramai. Kaningsih mengaku ikut mengais rejeki dengan membuka warung kelontong 

Dia berharap, pemerintah tidak mematikan usaha di lingkungan Gambilangu  agar perekonomian warga bisa terus ekssis.
 “Kita harapkan karaoke tetap ada dan dilegalkan tapi prostitusinya dihilangkan jadi usaha warga bisa jalan,” katanya. (zykka-SS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment