Polwan adalah Cita-Citaku

By Redaksi SS 20 Apr 2018, 13:16:10 WIB Sahabat Kita
Polwan adalah Cita-Citaku

Keterangan Gambar : Fenny, orang tua senantiasa mengajarkan cara hidup mandiri, menjaga kedisiplinan dan senantiasa bisa bertanggungjawab.


Semarangsekarang.com--Perkenalkan nama lengkap saya Fenny Cita Anggraeni, orang tua dan sahabtku biasa menyapa dengan panggilan Fenny. Tempat kelahiranku Kendal pada 7 Februari tujuh belas tahun silam.  Sejak kecil hingga kini aku bercita-cita menjadi seorang polisi wanita (polwan) yang bisa menjadi kebanggaan kedua orang tuaku.

Saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Hobi saya menggambar dan berolahraga terutama bermain bulu tangkis. Menurutku dengan berolahraga bisa membuat kita badan tetap segar sekaligus untuk menjaga kesehatan, sehingga pikiran juga bisa lebih terbuka.

Saya terlahir dari keluarga sederhana dan tinggal di tempat sejuk didaerah Limbangan, ibuku Marwiyah seorang ibu rumah tangga, Bapak saya bekerja sebagai karyawan swasta (koperasi simpan pinjam) bernama Parmojan.

Soal pendidikan, ketika berusia empat tahun saya sekolah taman kanak-kanak (TK) Dharma Wanita di daerah Pagerwojo, kemudian pada saat umur 6 tahun sudah masuk SD, kemudian saya lanjutkan pendidikan di SMP PGRI 09 Limbangan. Saat ini saya duduk bangku kelas XI di sekolah kejuruan di SMK Negeri 3 Kendal, di jurusan Rekayasa Perangkat Lunak(RPL).

Selain pendidikan sekolah aku juga didik dalam kehidupan sosial, oleh orangtuaku. Sejak kecil keduanya selalu mengajarkan kepada anak-anaknya termasuk saya untuk selalu bisa menjadi sosok pribadi yang mandiri, disiplin, prihatin, jujur serta bertanggung jawab. 

Disamping itu saya juga senantiasa diajarkan dan dilatih untuk bisa mencari mendapatkan penghasilan sendiri, tujuannya agar saya tahu arti sebuah perjuangan mencari uang itu butuh ketekunan, ketelatenan dan tidak mudah menyerah. Yang terpenting penghasilan tersebut halal berapapun jumlahnya. Kedepannya diharapkan saya bisa mempunyai sifat hemat dengan memanejemen keuangan yang tepat agar tidak boros. 

Dari situ saya belajar banyak pengalaman dan saya sadar jika saya menginginkan sesuatu yg sekiranya tidak terlalu penting saya tidak berani meminta uang pada orang tua saya dan jika saya sangat menginginkan sesuatu tersebut saya harus bisa mengumpulkan uang saya sendiri. Walaupun sebenarnya orangtua bisa mencukupi kebutuhan saya. (faf-SS)

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment