Remaja Pemeran Buto Cakil yang Berprestasi
Cahya Nauval Daffa Wibisana

By Redaksi SS 02 Apr 2018, 20:39:19 WIB Tokoh / Profil
Remaja Pemeran Buto Cakil yang Berprestasi

Keterangan Gambar : Pelatih Ayok Eko Pertiwi (kanan) saat melatih Cahya Nauval Daffa Wibisana dalam menjalankan lakon Buto Cakil di TBRS.


Semarangsekarang.com--Cahya Nauval Daffa Wibisana, berusia 17 tahun, merupakan siswa SMA N 1 Semarang kelas 11 MIPA yang memiliki segudang prestasi dalam hal kesenian. Cahya merupakan anak ke tiga dari pasangan Slamet Peni Raharjo dengan Sahening Diah Utami yang memiliki keahlian memerankan tokoh pewayangan Buta Cakil.

Buta Cakil merupakan seorang raksasa dengan rahang bawah yang lebih panjang daripada rahang atas dan dalam sebuah pertunjukan wayang, cakil selalu berhadapan dengan Arjuna ataupun tokoh satria yang baru turun gunung dalam adegan "Perang Kembang".

Tokoh ini hanya merupakan tokoh “humoristis” yang tidak serius namun sebenarnya Cakil adalah perlambang tokoh yang pantang menyerah dan selalu berjuang hingga titik darah penghabisan karena dalam perang kembang tersebut Cakil selalu tewas karena kerisnya sendiri.

Cahya Nauval Daffa Wibisana sejak usianya masih Taman Kanak-Kanak (TK) sudah belajar tokoh pewayangan dan sudah mempelajari selama 12 tahun di Sanggar Tari Yasa Budaya untuk mempelajari tokoh pewayangan Butacakil. Untuk mengimbanginya dirinya juga ikut latihan wushu.

“Karena tokoh cakil itu gerakannya yang lincah dan membutuhkan keahlian tersendiri terutama permainan di tangan dan seluruh organ lainnya seperti kaki juga mempengaruhi sehingga mengikuti wushu,” katanya.

Selain memerankan sebagai Cakil, akunya, juga memerankan sebagai Gatotkoco Gandrung, Bambangan Cakil, prawiro wacan, Gareng serta tokoh lainnya. Tetapi dari permainan berbagai tokoh itu yang paling sulit adalah memerankan tokoh cakil. “Seringnya sebagai cakil, karena tingkat kesulitannya yang tinggi. Dan peran yang tingkat kesulitannya yang tinggi itu adalah “Gatotkoco Gandrung dan Cakil”,” tandasnya.

Cahya mengakui untuk peran Cakil itu permainan tangannya yang muter-muter sehingga tidak semua orang bisa memerankan hal itu. Bahkan untuk perannya sebagai cakil itulah pernah mengantarkan sebagai juarai tingkat Nasional yang berlangsung di Magelang. “Jadi untuk juara itu pernah dilakukan pada 2017 tepatnya pada Juli lalu,” katanya.

Di sanggar di Sanggar Tari Yasa Budaya ini tidak hanya belajar menari tetapi juga belajar koreografi, menejemen waktu seperti menari itu tidak hanya belajar menari saja tetapi juga ada maksud dan tujuannya dalam menari.

Selain cakil, katanya, juga pernah memerankan sebagai rahwana, prajurit Brotoseno, Dursosono yang mempunyai peran yang susah dan memiliki kriteria khusus. “Banyak peran dalam pewayangan yang memiliki kriteria yang berbeda-beda. Untuk itu perlu kosentrasi yang luar biasa untuk memerankan tokoh apa,” imbuhnya.

Selama ini dalam memerankan sebagai cakil tetapi ketika memerankan yang lain seperti gatotkaca tidak mengalami kesulitan karena searching di internet bagaimana memerankan tokoh pewayangan dengan baik. “Untuk memerankan tokoh lainnya perlu melihat melalui internet bagaimana tokoh wayang ini. Setelah itu dikonsultasikan dengan pelatihnya selanjutnya akan dipakai yang terbaik,” paparnya.

Dukungan orangtua dan guru

Sedangkan untuk prestasi yang pernah ditorehkan adalah pada 2017 untuk Tingkat Jateng tari Bambangan Cakil mendapatkan juara Dua, Tari Semarangan mendapatkan juara 1 tingkat Jateng, kemudian juga masuk tim Jateng untuk menari di Bali dalam rangka pesta kesenian Bali.

Untuk mewujudkan semuanya tentunya ada peran dari pihak sekolah, dan sekolah mendukung. Ketika melakukan ijin dipermudah dan dalam mewujudkan prestasi ini tidak menganggu proses belajar mengajar. “Guru-gurunya baik bahkan ketika mengikuti kejuaraan untuk tugas bisa menyusul bahkan untuk ulangan bisa dilakukan melalui ulangan susulan,” tambahnya.

Bahkan untuk pemain untuk cakil di Semarang masih langka bahkan untuk tingkat Jateng sendiri hanya ada 10 pemain karena untuk memerankan tokoh pewayangan tersebut tingkat kesulitannya tinggi dan jarang orang yang bisa.

“Masih jarang yang bisa memerankan cakil dalam tokoh pewayangan bahkan untuk tingkat Jateng tidak banyak hanya ada 10 orang,” katanya.

Terkait dengan prestasi yang ditorehkan Cahya Nauval Daffa Wibisana, kedua orangtua sangat mendukung hal itu dibuktikan dengan selalu mengikuti ketika latihan bahkan ketika pementasan disuatu tempat kedua orangtua juga ikut.

“Kedua orangtua itu sangat mendukung bahkan ketika main disuatu daerah semua orang yang ada dirumah diajak untuk mengikuti bahkan satu kamar digunakan satu keluarga dan saudara,” paparnya.

Cahya Nauval Daffa Wibisana memiliki cita-cita sebagai Koreografer seperti yang dilakukan oleh Eko Supriyanto sehingga bisa melenggang ke luar negeri karena pandai menari. Orangtua Cahya Nauval Daffa Wibisana, Sahening Diah Utami mengaku basic-nya sebagai penari harusnya diimbangi oleh disiplin ilmu yang lain karena di Indonesia, pekerjaan penari itu belum bisa menjanjikan.

“Sebagai penari itu tanpa diimbangi dengan disiplin ilmu lainnya maka akan sulit untuk dijadikan sebagai mata pencaharian. Untuk itu agar Nauval dapat memiliki disiplin ilmu lainnya agar bisa seirama dan mampu mengjhasilkan materi,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Diah mencontohkan sosok Didik Nini Towok yang pada awal karirnya banyak kendala bahkan dicemooh "menari itu apa" tetapi setelah dia punya nama semua orang melirik . “Tidak hanya satu bidang saja tetapi juga perlu ditunjang bidang lain sebagai ketrampilan, bukan sebagai sesuatu yang diutamakan. Yang terpenting keduanya bisa sejalan tanpa ada masalah,” tambahnya.(nur-SS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment