Semua Siswa Laksana Anak Sendiri
Priyatmaka 

By Redaksi SS 28 Apr 2018, 20:54:06 WIB Tokoh / Profil
Semua Siswa Laksana Anak Sendiri

Keterangan Gambar : Priyatmaka gembira mendengar anak didiknya sukses, namun juga bersedih jika anak didiknya berbuat hal-hal yang merugikan masyarakat. Karena bagaimanapun semua murid yang pernah diajarnya sudah dianggap sebagai anak sendiri.


Semarangsekarang.com--Semua guru memiliki tugas yang sama, yakni mencerdaskan dan mendidik siswanya. Tetapi tantangan dan persoalannya pasti berbeda-beda. Masing-masing memiliki keunikannya sendiri. 

Priyatmaka misalnya, Kepala Sekolah SD Negeri Kalianget Wonosobo, sudah menghadapi berbagai persoalan selama 30 tahun pengabdiannya dalam dunia pendidikan. Salah satu persoalan unik yang dihadapi terjadi ketika ia mengajar di SD Negeri 2 Condongcampur, Pejawaran, Banjarnegara, pada 1988.

“Waktu itu, semangat belajar anak-anak sangat mengkhawatirkan. Mereka tidak terpanggil untuk bersungguh-sungguh. Terlebih mereka yang kelas VI,”kata pria kelahiran Sragen, 12 Oktober 1967. 

Selain tidak bersemangat untuk belajar, rata-rata  anak dilingkungan Condongcampur juga tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang SLTP. Kebanyakan mereka langsung bekerja di kebun.

“Saat itu  hasil bekerja di kebun kentang sangat bagus, hingga jutaan rupiah. Jauh melebihi gaji saya yang hanya Rp. 40.000. Karena itu kebanyakan  orangtua langsung meminta anaknya bekerja, tidak usah melanjutkan pendidikannya,”ungkap  suami Tri Mariyatmi. 

Melihat kondisi yang tidak baik, itu Priyatmaka bersama guru-guru yang lain, berinisiatif untuk bertemu dengan orangtua dan wali murid. Meskipun butuh waktu yang agak lama, akhirnya para siswa dan orangtua sadar akan pentingnya pendidikan. Mereka pun mendorong anak-anaknya untuk terus bersekolah. Tidak hanya puas mengantongi ijazah SD saja.

Bagi anak ke dua dari enam bersaudara pasangan Sakti Nasution dan Suwarni ini, mengajar di Banjarnegara memang memiliki kenangan luar biasa. Karena banyak kenangan unik yang ditemuinya disana. Salah satunya karena logat bahasa Banjarnegara yang dianggap lucu dan asing. 

“Logat bahasanya berbeda dengan Sragen, sehingga terasa aneh didengar. Sampai sampai saya harus banyak belajar dan  mencatat kata-kata yang susah dimengerti. Contoh: singa-singaha (sak-sakke), nggere (mosok), rika (kamu),”kata Priyatmaka lagi. 

Selain itu, mengajar di Banjarnegara juga menyenangkan. Karena saat panen, para guru menerima banyak sayur dari orangtua murid. Sehingga hampir tidak pernah beli sayuran.

Selama 30 mengajar, Priyatmaka merasa banyak kenangan dan pelajaran yang sudah dia petik. Ia akan merasa senang jika melihat atau mendengar ada bekas muridnya yang sukses. Demikian pula sebaliknya. 

“Sekarang saya sedang merasa sedih, mendengar ada bekas murid saya di Banjarnegara yang melarikan mobil rental. Bagaimanapun, mereka sudah seperti anak-anak saya sendiri,” ujar Priyatmaka lagi. 

Sebelum di SD Negeri  Kalianget Wonosobo, Priyatmaka sudah menjadi Kepala Sekolah di  SDN Telogo Jati. Tetapi sebelumnya ia sempat ditugaskan Kaliengajar  di SDN 2 Condongcampur, Pejawaran, Banjarnegara pada 1988. Kemudian pada tahun 2005 Priyatmaka diangkat menjadi kepala sekolah di SDN 1 Condongcampur, lalu  mutasi ke Wonosobo, menjadi guru  di SDN Wonosari, Kecamatan Wonosobo. Pada 2012 ia mutasi jadi  Kepala  Sekolah di SDN 2 Tlogojati hingga akhirnya pada  2013, mutasi ke SDN Kalianget hingga sekarang. (mbd-SS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment