Sukses Mengubah Lahan Kritis Menjadi Lahan Kopi
Ariyadi alias Slamet

By Redaksi SS 26 Mei 2019, 18:29:30 WIB Tokoh / Profil
Sukses Mengubah Lahan Kritis Menjadi Lahan Kopi

Keterangan Gambar : Ariyadi alias Slamet memperlihatkan hasil tanaman kopi Arabika-nya. Ia berhasil menyulap lahan kritis menjadi lahan produktif .


Semarangsekarang.com (Sosok) - Bagi sebagian warga Kabupaten Semarang, Kopi  Gedong Songo mungkin belum terlalu familiar. Tetapi jangan kaget, bila satu saat nanti, kopi ini  membawa harum nama Ungaran. Maklum, saat ini saja, untuk mendapatkannya tidaklah gampang, pembeli dipaksa harus rela mengantri  dengan bahasa yang lebih tepat memesannya terlebih dahulu.
 
Kopi Gedong Songo berjenis Arabika. Harganya relatif mahal, dengan aroma yang harum dan rasa lebih halus. Karena itu, saat ini kopi ini semakin banyak diminati para penikmat kopi, bahkan dari luar Ungaran. 

Keberadaan komoditas Kopi Gedong Songo tak bisa dilepaskan dari kiprah seorang Ariyadi alias Slamet   bersama aktivis Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Dusun Darum, Kelurahan Candi, Kecamatan Bandungan, Semarang. Mendapati lereng Gunung Ungaran yang makin kritis, tahun 2003 Slamet berinisiatif menghijaukan daerah tersebut dengan tanaman kopi. 

“Awalnya, mencoba menyangrai kopi luwak yang ada di hutan, kok rasanya enak banget. Dari situlah mulai timbul keinginan untuk menanam kopi,” kata Slamet menambahkan.

Lahan yang digarap Slamet bersama rekan-rekannya untuk menanam kopi berada di ketinggian 1000-2000 meter.   Lokasinya beragam,   di lereng gunung, jurang, hingga hutan. Sedangkan luas area tanamnya mencapai  2000 meter sampai satu hektar. 

Menurut Slamet, kondisi alam   di pegunungan  cocok ditanami kopi jenis Arabika.  Karena tanaman ini baik bila ditanam di dataran tinggi, antara 1.000 meter hingga 2.000 meter di atas permukaan laut. Dengan suhu  berkisar antara 14-24 derajat Celsius. 

Kopi Arabika sendiri   memiliki kelebihan, selain bentuk biji lebih panjang, kandungan kafein kopi Arabika juga lebih rendah, yakni 08 - 1,4 %, sehingga tidak terlalu pahit namun memiliki tingkat keasaman yang lebih tinggi. Kebanyakan kopi Arabika memiliki aroma yang wangi seperti buah-buahan atau bunga-bungaan, meski  jumlah biji kopi dalam setiap panen  tidak sebanyak kopi Robusta. Lima tahun setelah menanam, Slamet mulai merasakan hasilnya. Saat pertama memanen, itu ia mendapatkan biji kopi seberat 40 kg. 

“Pada tahun 2015 kami pernah panen biji kopi 3 ton. Kemudian tahun 2016 turun menjadi 2 ton, dan pada 2017  surut dan hanya 5 kwintal. Satu kilogramnya untuk kopi grade C Rp 40 ribu, grade B Rp 60 ribu, dan grade A di atas  Rp 100 ribuan”, jelasnya.   

Proses natural

Dari rekan-rekannya sesama pecinta kopi, Slamet belajar mengolah kopi. Setiap proses pengolahan kopi mensyaratkan pemanenan kopi dengan petik tangan buah masak atau petik merah (red cherry). Slamet, selalu melakukan  pengolahan  kopi secara  natural process (pengeringan kopi langsung dengan buahnya) dan honey process (buah kopi dikupas dan dikeringkan dengan lapisan mucilage yang masih menyelimuti biji kopi).  Intinya, buahnya dipetik dari pohon, lalu langsung dikeringkan di bawah sinar matahari.

Kini Slamet tak perlu repot memikirkan cara menjual kopi yang dihasilkan. Ada saja pembeli yang datang. Terkadang mereka harus memesan dahulu. Bahkan ada juga beberapa konsumennya yang memesan jauh-jauh hari, karena tak ingin kecewa gagal mendapatkan kopi yang diinginkannya. (M Budiono-SS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment