Tembakau Purbalingga, Pernah Merajai di Eropa
Launching Buku Tembakau di Purbalingga

By Redaksi SS 25 Jul 2020, 18:36:24 WIB Dari Daerah
Tembakau Purbalingga, Pernah Merajai di Eropa

Keterangan Gambar : Cover buku tembakau di Purbalingga. (gambar: istimewa)


Semarangsekarang.com (Purbalingga) – Industri tembakau di Kabupaten Purbalingga memiliki sejarah panjang yang indah.  Di era kolonialisme, tembakau dari lereng Gunung Slamet tersebut pernah merajai pasaran eropa dan mendunia.  Walaupun kini tinggal cerita masa lalu yang indah.

"Karena tembakau rakyat Purbalingga lahannya hanya tersisa sekitar 12 hektare (ha) dan ditanam bukan sebagai komoditas utama, melainkan sebagai tanaman sela.  Lokasinya hanya ada di Desa Kutabawa dan Desa Serang Kecamatan Karangreja," kata Gunanto, Eko Saputro, salah satu penulis buku tersebut.

Fakta tersebut mengemuka dalam peluncuran buku tembakau di Purbalingga: sejarah dan Perkembanganya di Graha Adiguna Kompleks Pemkab Purbalingga, Kamis (23/07/2020).  buku ditulis oleh Abdul Azis Rasjid, Agus Sukoco,  Anita Wiryo Rahardjo, Ganda Kurniawan dan Gunanto Eko Saputro. Acara tersebut dihadiri oleh Kantor Perwakilan Pelayanan Bea dan Cukai Purwokerto, dinas/instansi terkait, petani tembakau, perusahaan penyetor cukai di Purbalingga, pelaku sejarah industri tembakau dan para jurnalis.

Asisten Sekda Bidang Administrasi Umum Yanuar Abidin yang hadir mewakili Bupati Dyah Hayuning Pratiwi (Tiwi)  mengapresiasi diterbitkannya buku tersebut. "Saya yakin buku ini telah melalui riset dan kajian yang mendalam mengenai tembakau di Purbalingga sehingga bisa menjadi rujukan dalam pengembagan tembakau kedepan," katanya.

Menurut Yanuar, pada masanya tembakau Purbalingga dikenal dengan kualitas  premiumnya yang dijadikan sebagai bahan pembungkus cerutu di pasar Eropa. Menilik sejarah inilah, tembakau Purbalingga menjadi primadona dan menjadi salah satu latar belakang Belanda melakukan praktek kolonialismenya di Purbalingga pada masa itu. "Bahkan pada saat itu Belanda sampai mendirikan pabrik tembakau di Purbalingga," ujarnya.

Masa keemasan tembakau Purbalingga bertahan sampai era PT GMIT yang bergerak di sektor ekspor daun tembakau produksi Purbalingga. Sayangnya, PT GMIT kemudian meredup dan berhenti beroperasi pada 1981. Saat ini, meskipun tembakau Purbalingga tidak lagi untuk mencukupi komoditas ekspor, namun masih ada yang membudidayakanya.

Masih di dua desa

Perkebunan tembakau rakyat di Purbalingga masih tersisa di dua desa di lereng Gunung Slamet, Desa Kutabawa dan Serang, Kecamatan Karangreja. Namun, jumlahnya hanya belasanan hektar. Itu pun sebagian besar berupa tanaman sela yang lebih banyak untuk konsumsi sendiri, kalaupun dijual di kalangan terbatas saja.

“Berdasarkan sejarah, sektor perkebunan tembakau adalah salah satu sektor perkebunan yang merupakan tanaman asli Purbalingga yang dibudidayakan oleh leluhur kita di lereng Gunung Slamet,” kata Yanuar saat memberikan sambutan pada Launching dan Bedah Buku ‘Tembakau di Purbalingga: Sejarah dan Perkembangannya’ di Operation Room Graha Adiguna, Kamis (23/07/2020).

Masa keemasan tembakau Purbalingga bertahan sampai era PT GMIT hingga tahun 1981 yang bergerak di sektor ekspor daun tembakau produksi Purbalingga. Meskipun saat ini tembakau Purbalingga tidak lagi dibudidayakan untuk mencukupi komoditas ekspor, namun saat ini masih terjaga kelestariannya.

“Hingga kini masih ada petani tembakau Purbalingga yang berada di sekitar Desa Serang dan Kutabawa Kecamatan Karangreja yang melestarikan perkebunan tembakau Purbalingga,” tutur Yanuar.

Adapun hasilnya saat ini tembakau Purbalingga masih terbatas hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan lokal dan diolah secara tradisional. Ia juga menjelaskan Purbalingga merupakan salah satu daerah yang ditetapkan sebagai penghasil Cukai Hasil Tembakau (CHT). (tubagus-SS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment