Tukang Nasi Goreng Jadi Kepala Desa
Abdullah bin Sunardi

By Redaksi SS 03 Jul 2018, 09:38:05 WIB Tokoh / Profil
Tukang Nasi Goreng Jadi Kepala Desa

Keterangan Gambar : Abdullah bin Sunardi, menjadi Kepala Desa mempunyai tanggung jawab yang besar dan tidak bisa dibandingkan dengan penghasilan yang diterima. Namun demi kepentingan desanya semua itu dijadikan sebagai bentuk pengabdian dan pelayanan masyarakat.


Semarangsekarang.com--Penampilannya sekilas memang tampak "menakutkan", hitam dan  kekar. Tetapi, sebenarnya penampilannya bukanlah menampilkan citra yang sebenarnya. Kata pepatah "siapa tak kenal maka tak sayang". Jauh di dalam lubuk hatinya, dia adalah sosok yang ramah, murah senyum, sederhana dan polos. Itulah diri seorang Abdullah Bin Sunardi (46 tahun), lurah Desa Kaliboja, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan. 

Dikalangan Masyarakat, dia dikenal dengan nama Pak Dullah. Keramahannya, tampak saat kita menyertainya berjalan. Hampir disepanjang jalan yang dilalui, dia tak lepas bertegur sapa, dan berjabat salam. Tua. Muda, anak-anak dan remaja, semua mengenalnya. 

Sebagai Kepala Desa, di wilayah paling depan Kabupaten Pekalongan yang berbatasan dengan Banjarnegara, Dullah selalu berusaha  menjaga nama baik Pekalongan. Anak pertama lima bersaudara pasangan Sunardi dan Suyati, ini senantiasa berusaha menunjukkan bahwa Kabupaten Pekalongan  tak kalah di banding Banjarnegara. Salah satu caranya, setiap kali  ada lomba desa, dia berupaya untuk tampil sebagai juara. Meski usahanya itu kerap membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

"Hadiah yang diperoleh tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan untuk ikut perlombaan. Sehingga kerap kita merasa setengah hati, cukup sekedar berpartisipasi, tidak harus ngotot, karena hadiah yang diperebutkan tidak bisa menutupi modal yang digunakan ikut lomba. Lebih  baik uangnya buat keperluan yang lain," kata pria kelahiran Kaliboja, 4 September 1971 itu memberi alasan. 

Apalagi kata Dullah, janji mendapat bantuan dari pemerintah  setelah berprestasi tak kunjung didapatkan. Malah, anggaran desa yang diterimanya berkurang. Meski begitu, sejak menjabat sebagai kepala desa pada 2013, Dullah sudah membawa Kaliboja meraih dua kali predikat juara tingkat Kabupaten. Masing masing lomba desa pada 2015 dan lomba PKK pada 2014. 

"Kalau sesekali bolehlah dicoba untuk menjadi kebanggan warga. Tapi tidak untuk tiap tahun, karena kebutuhan yang lain tidak bisa dinomor duakan," kata alumni SMAN Kedungwuni angkatan 1990, itu menambahkan. 

Dullah sendiri sebenarnya tidak pernah bercita-cita menjadi kepala desa. Ia sadar, Kepala desa punya tanggung jawab besar, sementara penghasilan yang didapat tidak sepadan dengan bebannya. Ia tahu benar kondisi tersebut, karena medio 1995-1999, ayah tiga anak hasil pernikahannya dengan Siti Maryam, pernah menjadi Sekdes Kaliboja. 

"Sebelum jadi kepala desa saya pernah jualan nasi goreng di Jakarta, bertani dan pegawai pabrik penggergajian kayu. Saya didorong masyarakat untuk mencalonkan diri jadi kepala desa, karena saat itu calon yang ada kurang disukai masyarakat. Dan masyarakat pula yang bergotong royong membantu pembiayaan saya maju sebagai calon kepala desa," kata Dullah menambahkan. 

Ke depan Dullah berharap, ia bisa membangun infrastruktur pendidikan lebih baik lagi. Terutama pendidikan keagamaan. Ia pandang itu penting, karena agama bisa membentengi generasi muda dari masuknya nilai-nilai asing yang tidak sesuai dengan budaya dan adat masyarakat. Semoga. (mbd-SS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment