134 Rumah di Cebolok Semarang Dirobohkan
Warga sempat melakukan perlawanan

By Redaksi SS 18 Feb 2021, 20:41:21 WIB Semarangan
134 Rumah di Cebolok Semarang Dirobohkan

Keterangan Gambar : Alat berat jenis begu merobohkan rumah di Cebolok kelurahan Gayamsari Semarang, Kamis (18/02/2021). (foto: dani/SS)


Semarangsekarang.com - Ratusan rumah di kampung Cebolok kelurahan Sambirejo kecamatan Gayamsari kota Semarang di bongkar oleh petugas satpol PP kota Semarang dibantu petugas gabungan polri dan TNI, Kamis (18/02/2021). Saat proses pembongkaran sempat terjadi kericuhan.

Kepala Satpol PP Kota Semarang Fajar Purwoto mengatakan pembongkaran itu merupakan lanjutan dari penyegelan pada 15 Januari lalu. 
Menurut Fajar rencana penggusuran sendiri seharusnya terlaksana 2 Februari lalu, namun dengan pertimbangan kemanusiaan tertunda dan baru terlaksana Kamis (18/02/2021) ini.

"Sebelum pembongkaran, pihaknya berulang kali telah memberikan peringatan dan pemberitahuan kepada warga untuk pindah karena lahan yang di tempati merupakan lahan milik orang lain" kata Fajar kepada wartawan.

Namun ucapan kepala satpol PP itu tidak di gubris, sehingga ketika pembongkaran dimulai, warga sudah berusaha menghadang aparat gabungan dari Satpol PP Kota Semarang bersama TNI Polri. Dalam aksinya, mereka menghadang petugas dengan membentuk barisan sambil membawa bendera merah putih. 

Namun usaha itu sia sia karena jumlah aparat gabungan jauh lebih banyak daripada warga. Aparatpun akhirnya bisa merobohkan 134 rumah warga menggunakan empat alat berat jenis begu. 

Warga yang tidak terima rumahnya di robohkan petugas sempat melawan dengan berbagai cara. "Ada yang melempar bensin ke arah petugas, membakar ban bekas, melempar batu dan kayu bahkan ada warga yang melawan dengan menggunakan pedang," kata seorang petugas satpol PP.

Meski begitu, penggusuran tetap berjalan mulus, karena aksi warga berhasil direda petugas. Sejumlah warga termasuk orang terduga provokator diamankan oleh petugas. 

Fajar menyayangkan sikap warga yang anarkis itu. Menurutnya aksi itu tak perlu terjadi sebab aparat hanya menjalankan tugas dan warga bisa mengajukan keberatan ke pengadilan jika merasa bangunan milik warga berdiri di lahan yang benar. 

"Kalau warga berbicara benar, silahkan maju ke pengadilan. Jangan rusuh. Kita ini menegakkan peraturan dan membantu melindungi tanah orang lain," kata Fajar. 

Fajar menambahkan, apalagi warga setempat sudah menerima ganti rugi atau tali asih. 

"Selagi saya masih Kepala Satpol PP, ada tanah orang yang dipakai orang lain, dan ada rekomendasi segel dan bongkar, pasti saya bongkar," tegasnya. (dani-SS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment