97 KK Nelayan Tambaklorok Boyongan
Tempat huntara Tambakrejo

By Redaksi SS 14 Feb 2021, 13:03:42 WIB Semarangan
97 KK Nelayan Tambaklorok Boyongan

Keterangan Gambar : Nelayan Tambaklorok Kelurahan Tanjungmas, Semarang Utara, boyongan. (subagyo/SS)


Semarangsekarang.com - Nelayan Tambaklorok Kelurahan Tanjungmas Semarang Utara boyongan dan menempati ''rumah'' hunian sementara (huntara) di Tambakrejo yang tak jauh dari Banjir Kanal Timur (BKT). Jumlah nelayan sebanyak 97 KK, Sabtu.

Ketua KNTI (Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia) Kota Semarang Selamet Ari Nugroho, Minggu (14/02/2021) mengatakan, para nelayan yang boyongan tersebut dulu menempati rumah bedeng-bedeng dan kini telah dibangunkan  hunian sementara yang layak untuk ditempati keluarga nelayan.

KNTI wadah organisasi para nelayan ikut senang lantaran para nelayan mendapatkan perhatian dari pemerintah terhadap hunian yang dinilai cukup layak untuk para nelayan dari pada tinggal di bedeng-bedeng. 

"Kami ikut senang, para nelayan bisa menempati hunian yang lebih layak. Nelayan sendiri karena mencari nafkahnya di laut maka, pemindahan nelayan tidak jauh dari laut," kata Ari mengutip ucapan yang pernah disampaikan oleh menteri KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) pada saat itu.

Ada lagi perhatian dari pihak lain terhadap nelayan. Dikatakan Ari, perhatian terhadap nelayan juga datang dari mahasiswa Undip. Para mahasiswa tersebut memberikan ketrampilan kepada nelayan untuk bercocok tanaman obat-obatan untuk keluarga (toga). Sehingga lingkungan hunian sementara nelayan diharapkan bisa lebih asri dan indah serta hasil tanaman obat bermanfaat.

Dan, selama satu tahun ke depan, nelayan yang menempati hunian sementara itu, oleh pemerintah kota digratiskan, tidak dipungut biaya administrasi, sedangkan untuk selanjut Ari mengaku belum tahu.

Menurut Ari, KNTI mengkhawatirkan rumah hunian nelayan yang tak jauh dari BKT itu, bila saat terjadi hujan terjadi luapan aliran sungai BKT. Sebab, selain lokasi hunian sementara tak jauh dari BKT, sungai yang membelah kota Semarang itu, bila terjadi luapan aliran sungai.

"Kekhawatiran kami lantaran sungai BKT tersebut, terjadi pendangkalan. Setelah BKT dibangun dan dinormalisasi, pendangkalannya sudah cukup.parah. Perawatan BKT sepertinya kurang perhatian dari pemerintah, lantaran tidak dilakukan secara rutin," kata Ari lagi.

Ari mengakui beberapa waktu lalu saat naik perahu terkait banjir di kawasan Kaligawe, Genuk melihat pendangkalan di BKT cukup parah. Di tengah- tengah sungai itu, kelihatan gundukan tanah yang memanjang dari utara ke selatan.

"Kekhawatiran kami, bila pendangkalan sungai BKT tidak dilakukan secara rutin maka lama kelamaan terjadi pendangkalan, dan bila turun hujan dengan intensitas tinggi akan terjadi luapan dahsyat, maka yang tinggal di hunian tersebut terkena dampak banjir.

Sekolah gratis

Di sisi lain menurut Ari, ada kampus SMK swasta yang menawarkan sekolah gratis untuk anak-anak nelayan. Pendidikan kepada anak-anak nelayan itu dengan harapan nelayan memiliki pendidikan tinggi.

Sehingga, nelayan diharapkan dapat mengelola manajemen keuangan dan hasil tangkapan ikan juga bisa dikelola atau dikemas dan bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi serta bisa tahan lama.

"Dari SMK di Semarang ada yang sudah menawarkan agar anak-anak nelayan bisa meneruskan ke jenjang SMK secara gratis, sehingga kelak nelayan minimal tamatan lulusan SMK, syukur-syukur bisa meneruskan kuliah. (subagyo-SS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment