Meneruskan Tradisi Keluarga Menjadi Guru
Welas Rarasati, SAg, MPd

By Redaksi SS 10 Jan 2021, 17:49:38 WIB SOSOK
Meneruskan Tradisi Keluarga Menjadi Guru

Keterangan Gambar : Welas Rarasati, SAg, MPd, berawal menjadi pengajar sempoa. (foto: istimewa)


Semarangsekarang.com - Sukses Muhammadiyah, membangun dunia pendidikan, tak lepas dari kontribusi Sumber Daya Manusia ( SDM yang mumpuni. Bukan hanya soal keilmuan, tetapi juga sikap. Orang-orang yang bekerja mengurus  lembaga pendidikan, di Muhammadiya kebanyakan bekerja dengan   ikhlas  mengharap ridho Allah SWT. Bukan semata-mata  uang yang mereka kejar dalam bekerja. 

Bekerja di lembaga pendidikan Muhammadiyah karena mengharap ridho Allah, bukan semata karena mencari  uang, dihayati benar oleh Welas Rarasati, SAg, MPd,  Kepala Sekolah MI Muhammadiyah Ajibarang Kulon, Kabupaten Banyumas. Jauh sebelum didaulat menjadi kepala  Sekolah pada 2007, sulung tiga bersaudara pasangan H. Subur Widadi (alm) dan  Hj Nur Khodijah, ini mengawali kiprahnya di dunia pendidikan dengan menjadi guru honorer di MI Muhammadiyah Karanglewas Kidul pada 2002. Itupun tidak disengaja, sebelumnya Raras diminta mengajar ekstrakurikuler Sempoa. Lalu, karena terjadi kekosongan guru ia diminta mengajar. 

"Menjadi Guru bukan cita cita saya. Tetapi darah guru mengalir dalam tubuh saya. Kakek saya seorang mantri guru atau penilik. Bapak saya juga guru. Sebagian besar keluarga dari Bapak adalah guru, jadi meski tidak berminat, profesi tersebut sangat dekat dengan kehidupan saya," kata Perempuan kelahiran Selasa Kliwon, 27 Maret 1973, kepada semarangsekarang.com.

Menjadi guru honorer di Muhammadiyah  memiliki tantangan tersendiri. Fasilitas minim dan gaji kecil, membuat istri Achmad Iman Handoko, SSos, ini sempat merasa gamang. Ia hampir mengeluh, sebelum akhirnya diingatkan orangtuanya agar bersabar. Ketika itu, Bapaknya yang juga seorang guru mengingatkan agar Raras  bekerja karena Allah, bukan semata mengharapkan upah, atau karena ingin dipuji Insyaallah rejeki bakal  mengikuti.

Butuh waktu selama lima tahun, bagi Raras membuktikan nasihat Bapaknya. Pada 2007, Ia diangkat sebagai PNS, dan dikukuhkan menjadi kepala Sekolah di MI Muhammadiyah Ajibarang Kulon. Menerima anugerah, itu hati kecil Raras pun berbisik, ia membenarkan pesan sang Bapak, karena ikhlas  menyerahkan segala urusan  kepada sang Khaliq.

"Menjadi PNS bukan berarti semua persoalan selesai. Tetapi, berbekal pengalaman, membuat saya semakin siap. Kalau semua persoalan dikembalikan pada Allah, kita pasti akan lebih ringan menjalaninya," kata ibu dari Dayu Nawangtyas Manuhara dan Al Fairuz Iman Farosa lagi. 

Seiring perjalanan waktu, Raras dipercaya memegang berbagai amanat penting dilingkungan Muhammadiyah.  Seperti, Bendahara Umum Forum Komunikasi Kepala Sekolah (FKKS SD /MI) Muhammadiyahh Jawa Tengah, Pengurus Forum Guru Muhammadiyah Jawa Tengah, Bendahara Umum Kwarda HW Banyumas, hingga Majelis Tabligh PD Aisyiyah Kabupaten  Banyumas. Tetapi, semua itu tidak akan membuatnya tersenyum bahagia, sebahagia melihat anak didiknya memahami sesuatu yang sebelumnya tidak mereka mengerti. 

"Kebahagiaan saya adalah melihat murid-murid lebih berprestasi. Juga teman-teman guru, kompak bekerja bersama, mengemban amanat mendidik anak-anak menjadi lebih baik," kata Welas Rarasati lagi. (m budiono-SS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment