Mengajar Itu Bukan Semata Mencari Uang
Muhtar Yusuf, Kepala Sekolah MI Muhammadiyah

By Redaksi SS 21 Jan 2021, 13:54:41 WIB SOSOK
Mengajar Itu Bukan Semata Mencari Uang

Keterangan Gambar : Muhtar Yusuf, Kepala Sekolah MI Muhammadiyah Karangtalun Kidul, Kecamatan Purwojati kabupaten  Banyumas. (foto: istimewa/dokpri


Semarangsekarang.com - Witing Tresno jalaran Soko kulino (cinta terjalin karena kebiasaan). Begitulah kalimat pendek yang bisa menggambarkan kecintaan Muhtar Yusuf, Kepala Sekolah MI Muhammadiyah Karangtalun Kidul, Kecamatan Purwojati kabupaten  Banyumas terhadap dunia pendidikan. Lebih khusus lagi cinta Muhtar kepada sekolah yang sejak dua tahun lalu dimpinnya, yaitu MI Muhammadiyah Karangtalun Kidul,  Kecamatan Purwojati.

Padahal kecintaan Muhtar terhadap dunia pendidikan tidak selamanya berjalan mulus. Pada 2004 misalnya, sesaat setelah diangkat menjadi guru di MIM Karangtalun Kidul, cobaan langsung menghadang. Salah satu siswi yang dikenal nakal di sekolah tersebut, mencaci dengan kalimat  yang kasar. Muhtar bergeming, dan hanya melaporkan cacian itu kepada kepala sekolah, sehingga persoalan pun selasai. 

Selain itu, suami Indriyati ini  juga  pernah bermasalah dengan siswa lain yang dikenal nakal. Ceritanya, saat murid lain siap mengikuti pelajaran, ada siswa yang tetap asik bermain. Muhtar mendorongnya, agar bergabung dengan siswa lain. Ternyata, anak itu  malah jatuh, wajahnya mengenai lantai dan satu giginya tanggal. Persoalan itu nyaris berbuntut panjang. Karena orangtua murid hendak melaporkannya ke polisi.  Beruntung, pada akhirnya masalah tersebut bisa diselesaikan secara kekeluargaan. 

"Pelajarannya, menjadi guru itu harus sabar, dawa ususe. Tidak gampang emosi, dan harus selalu  ikhlas," kata Muhtar lagi. 

Selain dengan murid, anak kedua, empat bersaudara pasangan Rochmadi dan Alfiah, ini juga pernah dicoba dengan kesulitan ekonomi. Saat itu, ia tidak memiliki uang sehingga  tidak bisa membeli bensin dan Itu membuatnya harus bolos mengajar.  Namun kondisi itu tidak membuat Muhtar berkecil hati. Bagi Muhtar, mengajar bukan melulu mencari uang. Tetapi juga  investasi buat masa depan, saat kembali keharibaan Allah SWT. Kini,  berkat kerja keras dan kesabarannya, lambat laun ia bisa mengatasi masalah ekonomi, terlebih setelah usahanya dibidang pertanian memberikan hasil yang baik. 

"Kalau sore saya bertani, sempat bertani sayur mayur, lalu pindah hidroponik kini saya menanam melon. Alhamdulillah hasilnya mencukupi kebutuhan keluarga," kata Bapak dua anak, kelahiran Banyumas, 9 Januari 1984, ini menambahkan. (m budiono-SS) 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment