Pasutri Penipu Berdalih untuk Bisnis Pertambangan
Ditahan di Polda Metro Jaya

By Redaksi SS 28 Jan 2021, 06:48:39 WIB Hukum
Pasutri Penipu Berdalih untuk Bisnis Pertambangan

Keterangan Gambar : Kombes Yusri dalam jumpa pers kepada awak media di Mapolda Metro Jaya Jakarta Rabu (27/01/2021), pelaku pasutri penipu mengaku sebagai menantu petinggi Polri. (foto: istimewa).


Semarangsekarang.com (Jakarta) - Diduga menawarkan investasi bodong, pasangan suami istri (pasutri) harus mendekam di jeruji besi. Mereka adakah Donny Widjaja – Kurnia Mochtar (Nia)  warga Perumahan Cibubur  Country, yang  tega menipu pengusaha Andreas Reza Nazarudin dan isterinya Maya Miranda Ambasari dengan dalih untuk investasi.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus mengatakan kasus dugaan penipuan berawal dari pertemuan antara korban  dengan sepasang suami istri di kawasan Pondok Indah pada Januari 2019.

Menurut Kombes Yusri, saat itu, korban dirayu agar mau menanamkan modal di sebuah perusahaan pertambangan.

Pasangan suami istri itu sesumbar mengaku sebagai keluarga dari mantan petinggi Polri untuk menjalin kerja sama dengan korban yang merupakan pengusaha kaya.

"Untuk meyakinkan korban, salah satu tersangka mengaku-ngaku sebagai mantan menantu petinggi Polri sehingga Korban mulai tertarik untuk menggarap proyek bersama tersangka,"  kata Kombes Yusri dalam jumpa pers kepada awak media di Mapolda Metro Jaya Jakarta Rabu (27/01/2021).

Yusri menyebut, awalnya, korban diminta mentransfer uang Rp 24 miliar untuk membeli lahan. Dari situ, tersangka terus memeras korban dengan dalih investasi.

Yusri menyampaikan setidaknya sudah Rp 39 miliar yang disetorkan kepada tersangka.

Yusri menyebut, tersangka tidak bisa menepati janjinya untuk memberikan keuntungan dari investasi tersebut sampai 2020. Setelah ditelusuri, proyeknya ternyata fiktif. "Jadi ini model investasi bodong dengan kerugian sebesar Rp 39 miliar," ucap dia.

Para tersangka dikenakan Pasal 378 KUHP dan atau Pasal 372 KUHP dan atau Pasal 263 ayat 2KUHP Jo Pasal 3,4,5 UU RI Nomor 8 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara.

Kombes Yusri Yunus menerangkan, ada tujuh orang yang jadi tersangka dalam kasus penipuan tersebut. Namun, hanya dua orang di antaranya yakni DK alias DW dan KA yang dijebloskan ke tahanan. Sisanya, dikenakan wajib lapor. Kepolisian menilai peran mereka pasif dan bersikap kooperatif.

"Jumlah tersangkanya ada tujuh. Tapi hanya dua yang ditahan. Dua orang ini aktif melakukan rangkaian kata bohong. Salah satunya adalah mengaku menantu mantan pejabat Polri," kata Yusri.

Manfaatkan kelemahan

Kuasa Hukum korban Andreas Reza Nazarudin - Maya Miranda Ambarsari,  Mahatma Mahardika, SH dari kantor MMP Law Firm mengatakan "Klien kami selaku warganegara yang taat dan patuh, serta percaya kepada hukum sehingga korban melapor ke kepolisian''.

Menurut Mahatma, pelaku pandai memanfaatkan kelemahan kliennya yang mudah luluh bila didekati dengan santun. "Pelaku dari awal sudah memiliki itikad tidak baik (te kwader trouw) sebelum menjalankan aksinya pelaku memakai pendekatan religius" kata Mahatma.

Dia menjelaskan, pelaku tidak ada niat ingin mengembalikan uang milik korban bahkan dengan enteng malah hanya meminta maaf.

"Bahkan pelaku mengaku uangnya habis dipakai untuk kepentingan pribadi, dengan berfoya-foya  membeli 1 satu unit rumah dan kavling tanah di Bintaro dan berbagai  barang mewah" pungkas Mahatma. (dani s/rls-SS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment