Pendistribusi Lemah, Pupuk Jadi Langka

By Redaksi SS 18 Nov 2021, 18:41:35 WIB Ragam
Pendistribusi Lemah, Pupuk Jadi Langka

Keterangan Gambar : Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jenderal (Purn) Moeldoko, saat di Kelurahan Wonolopo, Kecamatan Mijen, Semarang, Kamis (18/11/2021). (foto: istimewa)


Semarangsekarang.com - Kelangkaan pupuk yang terjadi akhir-akhir ini disinyalur akibat pendistribusian yang masih lemah, akibatnya beberapa daerah mengalami kelangkaan. Untuk itu ketua HKTI mengundang para direktur Pupuk se-Indonesia dan jajaran Kementerian Pertanian untuk membicarakan masalah pupuk ini.

“Nanti kita tunggu solusinya karena memang ada perubahan formulasi untuk subsidi yang semakin menyempit,” kata Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jenderal (Purn) Moeldoko, dalam acara silaturahmi dan panen padi dengan perempuan tani HKTI Jawa Tengah di Kelurahan Wonolopo, Kecamatan Mijen, Kamis (18/11/2021).

Moeldoko menambahkan untuk pupuk subsidi itu tidak bisa diberikan semua karena ada alokasinya, intinya, sebagai ketua HKTI sangat merasakan apa yang dirasakan oleh petani Indonesia. Terkait dengan kelangkaan pupuk pihaknya mengaku belum dilakukan operasi pasar. Tetapi akan dilihat titik lemah distribusi itu yang paling penting.

“Jadi memang titik lemahnya ada di distribusi. Kenapa bisa seperti ini, apakah ada rembesan pupuk itu lari ke kebun atau bagaimana. Ini masih, kita ingin mencari jalan terbaik agar semuanya bisa mapan,” tambahnya.

Terkait dengan harga bawang merah yang harganya anjlok dibawah Rp 9.000, Moeldoko mengaku ini sangat memukul petani karena harga bawang merah itu harus di atas Rp 12.500 itu merupakan batas kritisnya di atas itu baru petani bisa menikmati.

“Ini merupakan sebuah persoalan, sebenarnya pengalaman seperti ini harus dipecahkan melalui sebuah perhitungan balance dimana supply dan demand,” imbuhnya.

Selain itu, menurutnya, Sektor Kementrian Pertahanan bisa membuat peta seberapa banyak tahun ini petani yang menanam bawang putih. Bahkan kebutuhan nasional dari tahun ketahun seperti apa, sehingga mestinya harus mencari balance agar tidak ada panen secara berlebihan.

“Ini sebenarnya sebuah teknik yang perlu dikembangkan ke depan untuk mencari keseimbangan antara kebutuhan dan supply,” pungkasnya. (wahid-SS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment