Pro dan Kontra Hadiah Nobel Sastra
Oleh Nia Samsihono

By Redaksi SS 04 Jan 2022, 08:27:15 WIB SOSOK / POJOK
Pro dan Kontra Hadiah Nobel Sastra

Keterangan Gambar : Nia Samsihono. (foto: dok istimewa)


Semarangsekarang.com - Agaknya saya perlu menulis lagi tentang pro dan kontra Hadiah Nobel Sastra. Hal ini karena ada yang unik dari berita yang viral di akhir Desember 2021, yaitu kabar tentang nominasi Hadiah Nobel Sastra untuk sastrawan Indonesia, Denny JA. Yang unik itu bisa dikatakan adalah nominasi Hadiah Nobel Sastra yang merupakan hasil diplomasi budaya. Tepatnya, diplomasi budaya ala Denny.

Pastilah berita sebesar dan seheboh nominasi Nobel Sastra untuk Denny itu disambut dengan pro dan kontra oleh kalangan komunitas sastra di Indonesia. Namun, sesungguhnya banyak argumen yang kontra itu salah arah. Mereka melupakan satu fakta 
penting bahwa bukan Denny JA yang mencalonkan diri untuk Hadiah Nobel Sastra itu. Bukan juga sekelompok orang atau individu mencalonkan Denny.

Fakta yang istimewa adalah The Swedish Academy, panitia nobel itu, yang mengirimkan undangan kepada Komunitas Puisi Esai untu mencalonkan sastrawan Indonesia. Komunitas Puisi Esai tersebut hanya merespon undangan itu dengan mencalonkan sebuah nama, yaitu 
Denny JA.

Pertanyaannya, dan ini yang menjadi inti tulisan ini: Mengapa The Swedish Academy, panitia Nobel, hanya melirik puisi esai saja yang diundang untuk mencalonkan? Tak terdengar ada 
komunitas sastra lain di Indonesia yang juga diundang?

Jawabnya, seperti yang saya katakan di atas, adalah akibat diplomasi budaya ala Denny JA. Secara Natural Komunitas sastra atau genre sastra dapat tumbuh secara natural. Melalui waktu yang panjang, terjadi proses saling menularkan gagasan, juga terjadi modifikasi dan seleksi. Akibatnya, sebuah komunitas atau genre sastra meluas, melalui waktu, menjangkau banyak orang. 

Demikianlah proses umum lahirnya banyak genre dan komunitas sastra.
Akan tetapi, komunitas dan genre puisi esai tumbuh dengan cara berbeda. Inilah yang saya penulis sebut sebagai diplomasi ala Denny JA.
Pertumbuhan puisi esai ada sentuhan marketing modern. Ada sentuhan dana yang besar. Ada sentuhan mobilisasi. Inilah pertumbuhan puisi esai ala Denny, yang sudah malang-melintang 
menjadi konsultan politik. Dan hasilnya, di samping kontroversial,ternyata juga menakjubkan. 

Kita semua tahu bahwa kiprah Denny di dunia sastra di satu sisi selalu dipandang negatif oleh sebagian masyarakat sastra Indonesia. Setiap nama Denny JA muncul selalu ada perlawanan, ada kata-kata sinis, serta hujatan-hujatan atau sindiran-sindiran yang mencemooh kehadirannya. 
Akan tetapi, selain itu, ada juga pendukung fanatik yang menyatakan: Apa salah Denny JA? 

Bukanlah ada hak bagi Denny sebagai anggota masyarakat Indonesia untuk melakukan sesuatu bagi dirinya dan bangsa Indonesia? 
Ia kebetulan mempunyai dana untuk melakukan sesuatu. Ia berhak mengadakan kegiatan selama 
hal itu tidak melawan hukum yang berlaku.

Ia juga berhak berkarya seperti manusia lainnya di Indonesia. Ia memang memiliki dana berlebih 
untuk kegiatan yang berkaitan dengan tulis-menulis. Bukan uang pemerintah yang ia gunakan, tetapi uang pribadinya. Sebagian pendukung Denny juga menyatakan bahwa mereka yang menghujat Denny mungkin 
belum kenal secara dekat. Mereka kemungkinan belum mengetahui karya-karya atau buku yang 
telah dibuatnya. 

Denny JA menggerakkan para penulis untuk mengisahkan kehidupan yang ada di sekitarnya menjadi sebuah karya yang dapat dibaca oleh seluruh masyarakat. Apakah salah jika ia memakai uangnya untuk tujuan yang positif? Ada sekitar 170-an tulisan telah dibukukan yang menggambarkan kondisi sosial masyarakat dan warna lokal di 33 provinsi di Indonesia yang 
dikemas dan diarahkan oleh Denny menjadi genre baru di dunia sastra, yaitu puisi esai. 

Kita, misalnya, akan mengetahui kehidupan masyarakat di Kalimantan Selatan tentang perkebunan atau kehidupan suku Dayak yang semakin terganggu oleh karena kegiatan pertambangan di wilayahnya. Begitu juga tentang kehidupan masyarakat di daerah lain, seperti Papua, Maluku, Sumatra, Jawa, atau Sulawesi. Berbagai kisah kehidupan itu dari berbagai daerah di Indonesia dialihwahanakan ke dalam film dan diterjemahkan ke dalam bahasa asing hingga dibaca masyarakat di luar Indonesia. Itulah yang dikerjakan oleh Denny untuk bangsa Indonesia.

Dari buku-buku tersebut, kiprah Denny JA ternyata terbaca oleh dunia dan menarik perhatian Panitia Nobel, The Swedish Academy (The Nobel Committee) yang secara resmi mengundang perwakilan Komunitas Puisi Esai Indonesia untuk menominasikan sastrawan Indonesia. 
Tepat kiranya jika Denny JA mewakili Komunitas Puisi Esai Indonesia untuk dinominasikan dalam Penghargaan Nobel di bidang sastra. Ketika diplomasi budaya dilakukan oleh Denny JA dengan menerjemahkan seluruh karyanya dalam bahasa Inggris, saat itulah karya-karyanya terbaca oleh orang asing tentang Indonesia. 

Walau itu dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai langkah kecil yang dilakukan oleh Denny JA, tetapi bermakna bagi bangsa Indonesia. Pendukung Denny menyatakan bahwa seharusnya masyarakat merespons positif pada apa yang telah dilakukannya.
Karya-karya Denny telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Lebih dari 100 karya 
Denny JA, baik dalam bentuk buku, atau pun film dan video sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau diberi subtitle bahasa Inggris. 

Bentuk Digital

Masyarakat dunia dapat membaca karya puisi esai karena disiarkan dalam bentuk digital di media internet. Karya sastra dalam bahasa Inggris merupakan dasar dalam diplomasi sastra era global. Karya puisi esai dari berbagai daerah itu menyuarakan batin masyarakat Indonesia yang menampilkan berbagai-bagai budaya, suku bangsa, dan agama.
Yang kontra Denny JA merundungnya dengan aneka emosional seperti di taman kanak kanak. Ada yang mengatakan Denny JA berhalusinasi. Ada yang menyebut Denny sekelas pedagang blantik di pasar hewan, dan lainnya. 

Sementara yang pro, meminjam kata-kata Hudan Hidayat, bahwa Denny JA membawa pembaruan visi sastra. Ini soal besarnya gagasan Denny atau imajinasinya. Ia tokoh yang visioner.
Denny adalah sebuah sistem bersastra baru dengan perangkat infrastrukturnya yang juga baru. Puja-puji dan kecaman yang berkembang, pada akhirnya justru menguntungkan Denny.

Diplomasi ala Denny JA ini membawa kontroversi yang justru membuat Denny JA semakin mendapatkan panggung.
Pro dan kontra ini justru menjadi bukti bahwa karya-karya Denny layak diperhitungkan dan memiliki pengaruh luas, terlepas ada rekayasa dan teknik marketingnya. Ada hal yang diperhitungkan oleh Panitia Nobel tahun 2022 pada Denny JA, antara lain 
kekuatannya mendirikan Komunitas Puisi Esai dan kreativitasnya mengembangkan puisi esai sebagai genre baru dalam karya sastra hingga ke negeri tetangga, Malaysia. Dengan tekun ia mengembangkan puisi esai ke bentuk baru (film dan video) dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris.

Jika tidak mendapatkan Hadiah Nobel di bidang sastra pun, Denny akan tercatat dalam sejarah. 
Betapa tidak? Ia akan disebut sebagai sastrawan Indonesia setelah Pramoedya Ananta Toer yang 
pernah secara resmi dicalonkan mendapat penghargaan Nobel di bidang sastra. (Nia Samsihono adalah sastrawan, tinggal di Jakarta-SS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment