Sastra Eksil yang Terlupakan
Oleh: Gunoto Saparie (Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah)

By Redaksi SS 02 Jan 2022, 09:48:36 WIB SOSOK / POJOK
Sastra Eksil yang Terlupakan

Keterangan Gambar : Gunoto Saparie, Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah. (foto: dok istimewa)


Semarangsekarang.com - Apakah sastra eksil Indonesia? Ia adalah karya-karya sastra sastrawan Indonesia yang terdampar di luar negeri dan tidak bisa atau tidak diperbolehkan pulang ke tanah air setelah peristiwa pemberontakan PKI yang dikenal sebagai Gerakan 30 September 1965. 

Ada satu ciri khas kehidupan sastrawan eksil yang menonjol, yaitu kejiwaannya yang mengalami trauma akibat peristiwa politik. Peristiwa pergantian kekuasaan dari Orde Lama menjadi Orde Baru. 

Dalam bahasa Inggris istilah “exile”, yang diindonesiakan menjadi “eksil”, memiliki tiga pengertian. Pertama, ia bisa berarti ketakhadiran. Ia merupakan sebuah absensi panjang (biasanya karena terpaksa) dari tempat tinggal ataupun negeri sendiri. 

Kedua, eksil bisa berarti pembuangan secara resmi (oleh negara) dari negeri sendiri. Sedangkan pengertian ketiga adalah seseorang yang dibuang ataupun hidup di luar tempat tinggal ataupun negerinya sendiri (perantau, ekspatriat). 

Istilah “exile” itu sendiri ternyata berasal dari bahasa Latin yaitu “exsilium” (pembuangan) dan “exsul” (seseorang yang dibuang).

Mengacu pada tiga pengertian tersebut, kita melihat ada faktor dislokasi geografis dari tempat kelahiran ke sebuah tempat asing. Hal ini  merupakan faktor utama penyebab kondisi yang disebut sebagai “eksil” tersebut. Dislokasi geografis itu bisa terjadi disebabkan oleh negara secara resmi atau justru karena pilihan pribadi mereka sendiri. 

Pada kasus pertama, mereka adalah para pelarian politik yang terusir atau diusir dari negeri kelahiran sendiri oleh pemerintahan yang sedang berkuasa. Sedangkan pada kasus kedua mereka adalah pada para pengungsi, para transmigran, dan para perantau yang mencari hidup baru di luar tempat kelahiran mereka.

Sastra eksil adalah sastra yang ditulis oleh para sastrawan dalam pembuangan politik di luar negeri kelahiran mereka sendiri. Perbedaan ideologi politik dengan pemerintahan 
yang sedang berkuasa merupakan alasan utama terjadinya pembuangan politik tersebut. Para sastrawan eksil berada dalam kondisi keterpisahan berlarut-larut di negeri asing 
dengan Indonesia. 

Hal itu tentu saja mengakibatkan mereka terombang-ambing antara dendam dan nostalgia, antara ilusi, kenangan, dan harapan. Mereka terasing dari realitas kehidupan rakyat Indonesia. Dalam situasi dan kondisi semacam, para sastrawan eksil berusaha mencoba menampilkan realitas kehidupan eksil sekaligus memberi perlawanan moral-kultural kepada represi sistem kekuasaan terhadap kebebasan mengutarakan pendapat di Indonesia. 

Akan tetapi, mengapakah sejarah sastra Indonesia ternyata mengabaikan karya-karya dan posisi mereka? Agaknya, harus diakui, ada mata rantai yang hilang dalam sejarah sastra Indonesia.
Dalam kaitan ini, kita menjadi prihatin ketika penerbitan sejumlah karya sastra eksil kurang bergema, bahkan nyaris tidak terdengar. Sebut saja, misalnya Kisah Intel dan Sebuah Warung karya Sobron Aidit, Perang dan Kembang karya Asahan Alham, Di Bawah Langit tak Berbintang dan Menuju Kamar Durhaka karya Utuy Tatang Sontani, antologi Di Negeri Orang: 

Puisi Penyair Eksil Indonesia, karya 15 penyair, antara lain Asahan Alham, Sobron Aidit, dan kawan-kawan. 

Duta-Duta Ilmu Pengetahuan. 

Kita tahu, ketika Presiden Soekarno masih berkuasa, banyak pemuda, intelektual, dan seniman dari Indonesia yang dikirim ke luar negeri untuk belajar ataupun menyerap modernisme yang terjadi di Eropa. 

Mereka diharapkan dapat mempelajari kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, sampai kebudayaan negeri lain, untuk diaplikasikan di negeri ini. Mereka diharapkan menjadi duta-duta ilmu pengetahuan dan kebudayaan demi kemajuan Republik Indonesia.

Akan tetapi, ketika tragedi G30S/PKI tahun 1965 meletus, sebagian besar dari delegasi Indonesia yang belajar di negeri asing ternyata tak dapat kembali ke Indonesia. (SS)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment