Kajari Usulkan Desa Tempur Sebagai Kampung Restorative Justice


Kajari Ayu Agung SH SSos MH MSi (Han) (tengah) bersama rombongan berfoto bersama usai melaksanakan penerangan hukum bagi masyarakat Desa Tempur Kecamatan Keling Kabupaten Jepara, Senin (14/03/2021). (foto: humas kajari jepara)
  • Kajari Jepara Giat Sosialisasi Sadarkum di Desa Tempur

Semarangsekarang.com (Jepara) – Kajari Ayu Agung SH SSos MH MSi (Han), melaksanakan penerangan hukum bagi masyarakat Desa Tempur Kecamatan Keling Kabupaten Jepara.

Kegiatan yang diikuti 60 orang ini dilaksanakan sebagai bentuk sosialisasi Desa Sadar Hukum dalam rangka membentuk kampung Restorative Justice.  Acara giat penerangan hukum dan sosialisasi sadar hukum, Senin (14/03/2022).

Pada kesempatan itu Petinggi Desa Tempur Mariyono menyampaikan ucapkan terima kasih  kepada Kepala Kejaksaan Negeri Jepara Ayu Agung beserta rombongan yang hadir di Desa Tempur.

Petinggi merasa bangga Desa Tempur dipilih oleh Kejaksaan Negeri Jepara sebagai desa percontohan Desa Sadar Hukum yang akan ada dijadikan kampung Restorative Justice. Hal ini, sebagai bentuk pendekatan hukum yang lebih merakyat, karena desa kami berjarak paling jauh dari ibu kota Kabupaten Jepara dengan jarak tempuh lebih kurang 2 jam, sehingga kami akan dapat merasakan dampaknya, sebagai hal yang positif.

Sosialisasi ini bertujuan agar warga desa tempur tidak menjadi objek atau subjek yang berurusan dengan hukum. Hal ini juga penting agar terjadi kedamaian antar sesama warga sehingga kejaksaan berkomitmen untuk menjadi penengah dalam konflik yang mungkin terjadi di desa tempur untuk perkara yang ringan.

Sebelum acara dilaksanakan pihak desa telah berkoordinasi dengan Kejaksaan Negeri Jepara sekitar akhir tahun 2021. Disela kunjungan Kajari ke Desa Tempur, pihaknya pernah berkomunikasi, sehingga sebelum adanya Resrorative Justice masyarakat Desa Tempur, ketika berperkara ringan sudah melaksanakan perdamaian kepada warga yang terlibat dengan masalah hukum.

Maryono juga menegaskan bahwa pihaknya akan berkolaborasi dengan kejaksaan tentang gagasan yang sangat bagus ini. Oleh karena itu desa akan membuat suatu ruangan khusus  untuk rapat musyawarah desa dalam menyelesaikan permasalahan hukum yang ringan. “Kami menyambut gembira gagasan tersebut. Oleh karena itu kami akan membuat ruangan khusus untuk menyelesaikan masalah hukum yang ringan di desa kami,” kata petinggi.

Kajari Jepara, dalam sambutannya menyampaikan bahwa, “Kejaksaan Negeri Jepara dalam rangka mencegah terjadinya tindak pidana dan perbuatan melawan hukum, oleh karena itu kami melaksanakan kegiatan penerangan hukum dan sosialisasi Desa Sadar Hukum dalam rangka membuat kampung Restrorative Justice di Desa Tempur Kecamatan Keling Kabupaten Jepara,” ujarnya

Ayu mengatakan bahwa, “Rencana ini jauh hari telah kami rencanakan dengan pihak desa. Serta dengan adanya potensi pariwisata yang banyak sehingga pergaulan disini bebas, oleh karena itu kami sosiaisasikan desa sadar hukum yang akan dibentuk kampung Restorative Justice,” jelas kajari.

“Sosialisasi ini bertujuan untuk mendukung program pemerintah supaya masyarakat Desa Tempur semua sadar hukum. Dengan cara menyelesaikan masalah hukum dengan menuntaskannya, tanpa ada masalah yang ditimbulkan. Sebagai contoh, kita mengedukasi, jika terjadi ketersinggungan atau pemukulan karena emosi sesaat mengakibatkan terjadi perbuatan melawan hukum,” jelasnya.

Kampung Restorative Justice

Lebih rinci lagi Ayu menyampaikan bahwa Desa sadar Hukum desa Tempur ini merupakan satu-satunya desa di Kabupaten Jepara yang akan diusulkan kepada Jaksa Agung untuk di nobatkan sebagai kampung Restorative Justice di Kabupaten Jepara.

Untuk membentuk Desa Sadar Hukum di Desa Tempur ini ada beberapa kualifikasi yang harus dipenuhi untuk mendapatkan Restrorative Justice, seperti hukuman dibawah 5 tahun dan kerugian dibawah 2,5 jt tapi tentang kerugian juga tergantung beberapa faktor diantaranya belum pernah dihukum, mendapat maaf dari korban, serta mengembalikan semua kerugian yang diderita korban.

Kemudian dalam menyelesaikan suatu masalah yang terjadi di desa dengan adanya kampung Restorative Justice ini nantinya akan ada ruangan dengan struktur yang ada akan dibentuk tim untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi sehingga perkara perkara kecil atau ringan bisa diselesai di desa oleh perangkat desa bersama dengan tokoh masyarakat korban dan pelaku supaya bisa kembali keadaan semula dengan ketentuan dan kesepakatan yang telah dicapai.

Ayu memberi gambaran sebagai contoh, “Ada seorang ayah yang tidak terima anaknya di bully dan setelahnya ayahnya datang ke sekolah dan menampar anak yang mem-bully, karena kejadian ini malah ayahnya yang berurusan dengan polisi,” jelasnya

Ayu berharap Desa Tempur ini akan menjadi desa percontohan untuk desa lainya dan jika dirasa bisa mendepankan pengertian hukum ataupun melek hukum yang baik dan terjadi perubahan dalam bermasyarakat maka kita akan lakukan di desa desa lain untuk menjaga keamanan dan ketertiban dimasyarakat. (boedi-SS)

Berita Terkait

Top