Jalsah Salanah Forum Strategis Perkokoh Kerukunan Umat Beragama


Suasana ketika peserta Jalsah Salanah di Hadeeqatul Mahdi, Alton, Inggris, rehat seusai mengikuti diskusi-diskusi di forum. (foto: istimewa)

Semarangsekarang.com – Jalsah Salanah yang merupakan ajang pertemuan muslim terbesar di Eropa adalah forum strategis dalam memperkokoh kerukunan umat beragama di seluruh dunia. Jalsah Salanah yang berlangsung di Hadeeqatul Mahdi, Alton, Inggris, 28-30 Juli 2023, merupakan momentum strategis dalam membangun peradaban dunia yang inklusif.

Hal itu dikatakan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Jawa Tengah yang juga Sekretaris Jenderal Asosiasi Kerukunan Umat Beragama Pusat Taslim Syahlan sehubungan dengan hasil-hasil Jalsah Salanah yang dia ikuti bersama empat tokoh nasional.

Keempat tokoh tersebut yaitu Ahmad Najib Burhani (peneliti BRIN dan aktivis Muhammadiyah), Lukman Hakim Saefuddin (mantan Menteri Agama RI), Musdah Mulia (pimpinan Indonesian Conference Religion and Peace–ICRP), dan Alisa Wahid (Ketua PBNU dan pendiri Gusdurian).

Menurut Taslim yang juga Dewan Pakar Satupena Jawa Tengah ini, teologi inklusif perlu dikembangkan secara global, termasuk di Indonesia. Suatu situasi di mana kita saling menghormati, toleransi, atas prinsip kesetaraan dan kerja sama kemanusiaan.

Sedangkan Ahmad Najib Burhani mengingatkan tentang perlunya memperkuat jaringan tokoh-tokoh lintas agama global. Hal ini menjadi penting dalam upaya mengikis perundungan terhadap kelompok minoritas.

Dubes RI untuk Tunisia Zuhairi Misrawi menambahkan, persekusi terhadap kelompok agama apapun tidak boleh terjadi di setiap belahan dunia. Indonesia harus terus mempromosikan wawasan Islam rahmatan lil ‘alamin, khususnya di Tunisia.

“Saya akan segera mengundang para aktivis perdamaian Indonesia ke Tunisia untuk terus mencari terobosan baru dalam membangun keharmonisan di tengah keberagaman global,” ujarnya.

Pemimpin Jemaat Ahmadiyah internasional Hazrat Mirza Masroor Ahmad Aba mengatakan, tujuan utama Jalsah Salanah adalah agar para peserta mencapai reformasi keimanan. Ini berarti, ketika seseorang mampu menggapai ketakwaan, kesalehan, dan kebenaran.

“Ketakwaan merupakan kunci utama untuk mendapatkan rida Allah. Bagi seorang mukmin, takwa dan kebajikan harus menjadi bagian integral hidupnya,” tandasnya. (subagyo-SS)

Berita Terkait

Top