Angka Kematian Bayi dan Ibu di Jateng Turun Tajam


Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Jateng Muh Saichudin, saat siaran di akun Youtube resmi BPS Jateng, Senin (30/01/2023). (foto: bps jateng)
 
Semarangsekarang.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat Angka Kematian Bayi (AKB) di provinsi ini mengalami penurunan tajam hingga 91,13 persen dalam lima dekade terakhir. Selain itu, Angka Kematian Ibu (AKI) Jateng juga berada di bawah angka nasional.
 
Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Jateng Muh Saichudin menyampaikan, dari Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 mencatat terjadi penurunan angka kematian bayi atau Infant Mortality Rate (IMR). Data menunjukkan, dalam rentang 50 tahun sejak 1971-2022, penurunan AKB di Jawa Tengah mencapai 91,13 persen. Jika dibandingkan tahun 2010, AKB jauh menurun dari 21 per 1.000 kelahiran hidup, menjadi 12,77 per 1.000 kelahiran hidup.
 
“Angka kematian bayi di Jawa Tengah sudah jauh menurun. Hal ini karena program imunisasi yang dilakukan oleh pemerintah, imunisasinya lengkap serta peningkatan rata-rata lama pemberian ASI, utamanya ASI eksklusif, membuat bayi yang dilahirkan semakin mampu bertahan hidup lebih lama dibandingkan jika tidak mengonsumsi ASI eksklusif,” kata Saichudin, melalui siaran di akun Youtube resmi BPS Jateng, Senin (30/01/2023).
 
Masih berdasarkan data Long Form SP 2020, AKB tertinggi di Jateng sebesar 16,57 per 1.000 kelahiran hidup berada di Kabupaten Brebes. Sementara, Kabupaten Sukoharjo menjadi wilayah AKB paling rendah dengan 10,42 per 1.000 kelahiran hidup.
 
Sementara itu, Angka Kematian Anak (AKA) sebesar 2,04. Ini artinya, di antara 1.000 anak (usia 1-4 tahun ) terdapat dua kematian anak. Adapun, angka kematian balita (di bawah lima tahun) adalah 14,81. Ini berarti dari setiap 1.000 balita, 14-15 di antaranya gagal mencapai umur 5 tahun tepat.
 
Saichudin juga memaparkan, Angka Kematian Ibu (AKI) di Jateng berada di bawah AKI Nasional. Jateng mencatatkan 183 yang selaras dengan penurunan yang ditargetkan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yakni 183/100 ribu Kelahiran Hidup.
 
“Yang menggembirakan adalah angka kematian ibu. Di mana AKI tahun 2020 sudah mencapai 183 (per 100 ribu kelahiran hidup), sedangkan level nasional mencapai 189 (per 100 ribu kelahiran hidup). ini menurun jauh, hampir 45 persen,” paparnya.
 
Saichudin menjelaskan, penurunan itu jika dibandingkan dengan Sensus Penduduk 2010 dan Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) 2015, AKI di Jateng menunjukan tren penurunan.
 
Data menunjukkan AKI di Pulau Jawa, Jateng sedikit lebih baik dari pada Jabar yang mencapai 187/100 ribu kelahiran hidup dan Jatim yang 184/100 ribu kelahiran hidup.
 
“Peningkatan pelayanan kesehatan yang ditunjukkan oeh peningkatan persalinan ditolong tenaga kesehatan terlatih, dan persalinan di faskes selama 20155-2022, serta peningkatan rata-rata umur perkawinan pertama dan umur kehamilan pertama, mendorong penurunan AKI yang cukup tajam,” imbuh Saichudin.
 
Kesejahteraan ibu hamil
 
Terpisah, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan berbagai program ditempuh untuk mengurangi AKB dan AKI di provinsi ini. Di antaranya program 5NG, yakni Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng. 
 
Melalui program itu, ia mengajak seluruh stakeholder terkait ikut memperhatikan kesejahteraan ibu hamil. Dengan demikian kasus kematian bayi dan ibu dapat ditekan.
 
“Tahun 2013, kematian ibu waktu itu 613 kasus, sementara kematian bayi 5.481 kasus. Alhamdulillah di tahun 2022 jumlah kematian ibu turun hingga mencapai 335 kasus, dan kematian bayi turun menjadi 3.031 kasus,” pungkas Ganjar. (aria/rls-SS)

Berita Terkait

Top