Akademisi yang Dilirik Partai Politik


Dr Mohammad Agung Ridlo ST MT seorang dosen Perencanaan Wilayah dan Kota (Planologi) Fakultas Teknik Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. (foto: dok istimewa)

  • Mohammad Agung Ridlo

Semarangsekarang.com – Akademisi merupakan salah satu profesi yang dilirik partai politik dalam penjaringan calon legislatif (caleg) di luar kader internal, meski jumlah mereka tak sebesar selebritis dari panggung hiburan.

Salah satu akademisi tersebut adalah Dr Mohammad Agung Ridlo ST MT seorang dosen Perencanaan Wilayah dan Kota (Planologi) Fakultas Teknik Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. Ia dipinang oleh partai politik untuk bertarung memperebutkan kursi legislatif di Kota Semarang.

Mengapa tertarik menjadi caleg? Pertama, menurut Mohammad Agung, karena ada yang mengajak untuk bergabung di legislatif. Kedua, panggilan hati supaya dapat berkiprah dalam pembangunan dengan mencermati, memberi masukan, arahan dan menawarkan solusi yang terbaik.

“Ketiga, mengawasi dan mengawal jalannya pembangunan supaya berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat banyak. Sedangkan keempat, lebih memperkuat anggota dewan dalam membuat regulasi-regulasi yang dibutuhkan dalam pembangunan,”

Agung menuturkan, waran untuk terlibat perpolitikan dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) diambilnya untuk menjadi calon legislatif DPRD Kota Semarang dengan daerah pemilihan (dapil) 5, yaitu Mijen, Ngaliyan dan Tugu, yang sebelumnya ia telah dilibatkan untuk menjadi anggota Dewan Pakar PKS Kota Semarang.

Beberapa partai lainnya yang sebelumnya juga pernah mengajak (mengincar) Agung adalah Partai Gerindra dan Partai Ummat, namun pada akhirnya Agung berlabuh di Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Alasan ia memilih PKS, karena ia merasa cocok, nyaman, enjoy, dan ada chemistry-nya. Selain itu dan yang lebih penting PKS adalah partai yang istiqamah dalam perjuangan Islam dan kepentingan umat secara keseluruhan.

Mohammad Agung Ridlo termasuk akademisi yang sering kritis dalam mencermati permasalahan yang terjadi di kota Semarang.

“Akademisi memang harus berbicara berdasarkan fakta, data, analisis dan solusi untuk mengawal pembangunan di negeri ini”. Tuturnya seraya menambahkan, jika ia tidak pernah membayangkan masuk dunia politik. Dengan keilmuan yang ia miliki tentu nantinya dan dapat dipastikan akan berhadapan dengan politik yang kerap diwarnai pragmatisme.

“Siapapun jika dalam pembangunan tidak dilandasi keilmuan yang memadai, maka akan terjadi penyimpangan, penyelewengan dan melenceng dari arah pembangunan yang benar.
Bagaimanapun, partai politik sebaiknya merekrut akademisi yang pastinya memiliki kemampuan intelektual yang tentu sudah lebih teruji dan mampu menawarkan solusi atas persoalan yang terjadi di masyarakat,” ungkap Agung.

Agung tercatat produktif sebagai akademisi dan tulisannya tersebar di berbagai media cetak maupun online. Ia mulai menulis artikel di media massa sejak tahun 1985 saat menjadi mahasiswa semester 3 di Planologi UNISBA Bandung. Sejak itulah publikasi, opini dan pemikirannya kerap muncul dan mewarnai berbagai media massa cetak di berbagai Ibukota.

Studi S2 nya di Magister Teknik Pembangunan Kota (MTPK) Universitas Diponegoro Semarang. Ia pernah mendapatkan Sandwich Like Programme di University of South Australia (UniSA), Adelaide City – Australia yang juga alumni S3 Program Doktor Arsitektur dan Perkotaan, Universitas Diponegoro.

Mohammad Agung Ridlo aktif di berbagai penelitian perencanaan wilayah dan kota di negeri ini. Sering melakukan penelitian dengan dana hibah dari Kemenristekdikti serta sudah menerbitkan 3 buku sebagai karya tunggal yang berkaitan dengan perencanaan wilayah dan kota antara lain Kemiskinan di Perkotaan (2001), Perumahan dan Permukiman di Perkotaan – Fakta, Analisis dan Solusi (2011), Mengupas Problema Kota Semarang Metropolitan (2016).

Ia sebagai salah satu Dosen Fakultas Teknik yang pernah diundang menjadi pembicara atau narasumber pada International Conference di Kuala Lumpur, Malaysia yang digelar oleh Kuala Lumpur International Business, Economics and LAw Conference (KLIBEL) yang melibatkan peneliti dari berbagai negara di empat benua.

“Dengan pengalaman panjang selama 29 tahun di perguruan tinggi yang saat ini saya bekerja dan bernaung di Universitas Islam Sultan Agung dan juga sebagai urban planner di konsultan perencanaan wilayah dan kota di Indonesia, serta kepakaran sesuai dengan disiplin ilmu saya semoga dapat mewarnai dan berguna di kancah perpolitikan di Indonesia”. tuturnya.

Dukungan keluarga

Menurut Agung, keluarga sangat mendukung karena memang sesuai dengan bidangnya. Ia memberikan kesempatan kepada anak dan isteri untuk memberikan pendapat dan akhirnya keluarga menyadari dengan keputusan mendukungnya untuk terjun ke kancah politik menyumbangkan pemikiran dan tenaga untuk nusa dan bangsa yang lebih baik.

“Sedangkan pimpinan kampus sangat mendukung penuh bagi para dosen yang berminat terjun ke dunia politik, karena hal itu justru merupakan prestasi yang membanggakan bagi perguruan tinggi maupun dosen yang bersangkutan. Di sini mereka dapat berkiprah menyumbangkan pemikiran dan tenaganya untuk pembangunan. (subagyo-SS)

Berita Terkait

Top