RA Kartini: Darmaning Manungsa lan Wulangreh Sejati Tumrap Generasi Instan
Tri Budi Cahayono : Anggota F PDI Perjuangan dan Komisi B DPRD Jepara
Semarangsekarang.com,- “Urip Iku Mung Mampir Ngombe, Nanging Suwarga lan Neraka Iku Saka Laku.” Petuah Jawa klasik yang artinya “Hidup Itu Hanya Mampir Minum, Namun Surga dan Neraka itu, Dari Amal Perbuatan”, ini menjadi “pangeling-eling” (pengingat) luhur bagi kita untuk memahami bahwa hidup bukan sekadar perjalanan sesaat, melainkan medan laku—tempat ditempanya jiwa manusia melalui kesadaran, kesabaran, dan pengabdian.
Di tengah zaman serba instan, saat generasi muda kian jauh dari akar kearifan budaya, RA Kartini hadir kembali bukan hanya sebagai tokoh emansipasi, melainkan sebagai laku sejati dari darmaning manungsa atau tugas suci manusia dalam menjalani hidup.
Era RA Kartini tumbuh dalam dunia yang mengekang perempuan, namun ia tak serta-merta melawan dengan kemarahan. Ia memilih jalan “eling lan waspada” (sadar dan waspada) sebagaimana diajarkan dalam *Serat Wulangreh* karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV:
“Wulangreh kang nora miturut, lamun dadi wong agung, tan kena anemoni, tan bisa nyukani rahayu.”(Belajar yang tak dihayati dan tak diikuti, meskipun menjadi orang besar, tidak akan mampu memberi keselamatan.)
Kartini memilih jalan sabda dadi—menyatukan kata, rasa, dan laku (tindakan/perbuatan). Dalam surat-suratnya kepada sahabat Eropanya, ia mempertanyakan ketidakadilan, merindukan ilmu, dan memimpikan masa depan di mana perempuan Indonesia bisa sejajar, tanpa kehilangan kodrat adab dan kebajikan. Sikap ini mencerminkan nilai ngudi kawicaksanan (mencari kebijaksanaan), sebagaimana dalam Serat Centhini:
“Kawicaksanan iku dudu saka akal, nanging saka rasa kang wus katempuh dening batin.” (Kebijakan itu tidak dari akal namun dari rasa yang sudah dilalui oleh batin).
Kartini bukan hanya pemikir, ia tirakat dalam sunyinya. Ia menulis dengan getar hati yang jernih, menjadikan rasa sebagai kekuatan perjuangan. Di sinilah ia sejalan dengan falsafah Sangkan Paraning Dumadi yang artinya; memahami asal dan tujuan hidup. Ia sadar, perjuangan hakiki adalah membebaskan manusia dari kegelapan batin, bukan hanya kungkungan luar. Maka, emansipasi baginya bukan pembebasan fisik semata, melainkan pencerahan jiwa.
Di era digital, ketika generasi muda cenderung tergoda oleh kecepatan dan popularitas semu, jejak Kartini mengajarkan nilai alon-alon waton kelakon atau berjalan perlahan tapi pasti. Bahwa dalam kehidupan, wasesa tanpa angkara (berkuasa tanpa amarah) lebih utama daripada kegaduhan tanpa makna.
Kartini menapaki tangga perubahan dengan laku utama, bukan gegap gempita. Inilah wulangreh sejati atau ajaran adiluhung yang perlu kita wariskan kembali.
Sedangkan bagi generasi instan, Kartini adalah tamparan sekaligus pelita. Ia mengingatkan bahwa kebebasan tanpa dasar budi pekerti akan melahirkan kekosongan makna. Maka, marilah kita tafsirkan kembali warisan Kartini sebagai bagian dari kebudayaan rasa, bukan sekadar sejarah. Sebab seperti kata pepatah Jawa:“Sepi ing pamrih, rame ing gawe”(Senyap dari kepentingan diri, namun giat dalam karya.)
Semoga nyala Kartini terus menyulut semangat kita menjadi manusia yang utuh—yang tahu darma, menjalani laku, dan mewariskan cahaya.
Rahayu,





