Q. Maung, Seniman Pisau dari Jongke
Q. Maung dengan sebilah pisau yang tengah dalam proses pembuatan (foto:mbo)
Semarangsekarang.com (Surakarta),- Bagi masyarakat Kota Surakarta, Jongke dikenal sebagai salah satu pasar tradisional yang telah berdiri sejak 1992. Saat ini, nama tersebut menjadi buah bibir, setelah bangunan Pasar Jongke direnovasi menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Tetapi, Jongke sebenarnya memiliki potensi lain yang bisa membuatnya lebih disegani dibanding hanya karena pasarnya. Potensi yang belum tergali secara luas, itu salah satunya berada di pertigaan lampu merah Jongke, tepatnya di Jl. Agus Salim no 66 Surakarta.
Rumah kecil yang nyaris tak berjarak dengan pertigaan lampu merah Jongke, itu adalah tempat di mana Q. Maung Ari Maulana Shiddiq (53), seniman pisau asli Surakarta menciptakan mahakarya dalam sebilah pisau. Dari tempat tersebut, beberapa pisau buatan Q. Maung telah diekspor hingga ke berbagai negara. Sementara di dalam negeri, Maung bukanlah nama asing dikalangan pecinta maupun kolektor pisau. Karya-karyanya sudah menjadi koleksi banyak kolektor pisau dari berbagai daerah di Indonesia.
Ari Maulana Shiddiq sudah tertarik dengan keindahan pisau sejak 1994. Saat itu Ia masih nyantrik di Pondok Pesantren Shiddiqiyyah Losari Ploso Jombang, Jawa Timur. Pria kelahiran Surakarta 17-April-1971, itu kerap memperhatikan pisau yang ada disekitarnya.
Lambat laun kekagumannya terhadap pisau semakin menjadi. Terlebih setelah ia semakin sering mendapat pelajaran dari para kolektor dan pembuat pisau. Saat bersamaan, Ia juga mulai membuat bilah-bilah pisau dari bahan-bahan pilihan.
“Bagi saya pisau bukan hanya alat bantu. Tetapi pisau sudah menjadi barang seni. Ada kepuasan batin yang saya rasakan jika berhasil membuat pisau yang bagus. Bagus bukan hanya ketajamannya, tapi juga bentuk serta keindahan yang ada dalam sebilah pisau,” kata Q. Maung pada semarangsekarang.com Minggu (2/3/2025).
Selama lebih dari 20 tahun menggeluti pisau, sudah banyak karyanya yang dikagumi para pecinta pisau. Mulai dari pisau lempar, pisau pemotong hewan korban hingga pisau sebagai alat bantu lainnya. Tetapi sebagian besar pisau buatannya, hanya digunakan saat tertentu atau bahkan untuk dikoleksi. Seperti pisau pemotong hewan kurban yang hanya dipakai saat idul Adha. Karena itu meski sudah banyak pisau pemotong hewan kurban dibuatnya, tetapi tidak mudah ditemukan. Padahal Sebagian pemotong korban di Surakaarta memakai pisau buatannya.
Dari sekian banyak pisau yang dia buat, salah sati pisau termahal yang sempat dibuatnya dihargai hingga Rp. 1,25 juta. Selain itu pisau-pisau yang berharga ratusan ribu rupiah sudah tak terhitung jumlahnya. Namun, sebagai benda seni, pisau karya Q. Maung seringkali memiliki harga yang jauh lebih tinggi dari pasaran. Dan itu membuat tidak semu orang mampu memilikinya.
“Banyak yang suka membandingkan karya saya dengan pisau yang dijual umum. Kalau sudah begitu saya persilakan saja, mereka untuk membeli pisau yang dibuat secara masal itu. Karena pisau yang saya buat adalah karya seni, pisau tradisional Hand Made dan tidak ada kembarannya,” ungkap Q. Maung.
Selain memiliki logo QM pada setiap pisau yang dibuatnya, pisau karya Ari Maulana Shiddiq memiliki ciri masing-masing dan itu tercatat dalam dokumen yang tersimpan dengan baik. “Ini adalah usaha saya agar tidak ada pemalsuan. Kalaupun sampai terjadi pemalsuan, mudah bagi saya untuk melacaknya,” ungkap Q. maung.
Karena tidak selalu ada pesanan pembuatan pisau, Q. Maung mengisi sebagian waktunya untuk menerima jasa servis dan penajaman. Baik menajamkan pisau, golog dan sejenisnya, hingga gergaji. Dan pada hari tertentu, konsumen jasa servis dan penajaman, itu harus rela mengantri. Salah satunya pada saat mendekat idul Adha.
“Kalau mendekatai qurban, pisau yang harus diasah bisa banyak sekali, karena itu konsumen harus sabar dan rela mengantri,” pungkasnya. (mbo/ss)







