Jalur Tengkorak Silayur Siap Diruwat
Oplus_131072
Jalur Silayur Ngaliyan merupakan turunan panjang yang rawan kecelakaan terutama truk berat yang melintas diluar peraturan jam operasional. (Foto : ist)
Bangkitkan Tradisi Mbah Kromo Lewat Wayang Kulit dan Sedekah Bumi
Semarangsekarang.com (Semarang),- Kecelakaan sering terjadi. Warga Silayur, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, siap menggelar tradisi ruwatan dan pagelaran wayang kulit sekaligus tradisi Sedekah Bumi di RW IV, Silayur Lawas Duwet, Bringin, pada Sabtu, 16 Mei 2026 mendatang.
Kegiatan ini menjadi penanda kebangkitan tradisi leluhur yang sempat terhenti selama puluhan tahun. Tradisi yang sarat nilai spiritual dan budaya ini kini mulai dihidupkan sebagai bentuk ikhtiar masyarakat untuk ‘nyelameti’ wilayah Silayur yang selama ini dikenal sebagai jalur rawan kecelakaan, bahkan kerap disebut sebagai ‘jalur tengkorak’.
Perwakilan warga sekaligus penyelenggara acara, Awaluddin, S.Sos, menegaskan bahwa, kegiatan tradisi wayangan ini bukan sekadar hiburan, melainkan doa bersama untuk keselamatan wilayah.
“Hal ini merupakan bagian dari tradisi nyelameti kawasan. Silayur selama ini dikenal sebagai jalur tengkorak karena sering terjadi kecelakaan. Kami ingin memanjatkan doa sekaligus melestarikan budaya,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Sedekah Bumi ini merupakan tradisi turun-temurun sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki, keselamatan, dan keberkahan.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarwarga serta menjaga kelestarian budaya lokal.
Secara historis, tradisi ini erat kaitannya dengan sosok Kepala Dukuh Duwet terdahulu, Mbah Kromo.
Pada masa kepemimpinannya, wilayah turunan Silayur kerap dilanda kecelakaan yang bahkan hampir terjadi setiap pekan dan menimbulkan korban jiwa. Tak hanya itu, berbagai musibah seperti penyakit mendadak juga sering menghantui masyarakat.
Melalui tirakat yang dijalaninya, Mbah Kromo disebut mendapatkan petunjuk agar warga rutin menggelar sedekah bumi, doa bersama, serta menggelar pagelaran wayang kulit.
Tradisi tersebut diyakini membawa perubahan signifikan, di mana kondisi wilayah menjadi lebih aman dan kehidupan warga semakin tenteram.
Setelah wafatnya Mbah Kromo, tradisi ini sempat dilanjutkan oleh Mbah Nasir. Namun sepeninggalnya, kegiatan tersebut terhenti selama kurang lebih 46 tahun. Kini, pada 2026, warga RW IV Silayur Lawas Duwet kembali berinisiatif menghidupkan tradisi tersebut dengan mengusung tema “Nguri-uri Budaya, Ngruwat Sengkolo, Mempererat Guyub Rukun”.
Rangkaian acara akan diawali dengan doa bersama pada pukul 15.00 WIB, kemudian dilanjutkan pagelaran wayang kulit mulai pukul 19.00 WIB hingga selesai. Seluruh kegiatan dipusatkan di Lapangan Voli RT 02 RW IV, Silayur Lawas Duwet, Bringin, Ngaliyan, Kota Semarang.
Melalui momentum ini, warga berharap citra Silayur sebagai jalur rawan kecelakaan dapat berubah menjadi kawasan yang aman, tenteram, serta penuh nilai kebersamaan dan kearifan lokal. (Subagyo/ss).







