Mbak Tika Luncurkan Antologi Puisi tentang Kendal
Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari menyerahkan buku antologi puisi tentang Kendal, kepada sejumlah seniman setempat di Pendopo Tumenggung Bahurekso Kendal, Sabtu (26/7/2025), malam (foto:ist)
Semarangsekarang.com (Kendal),- Pendopo Tumenggung Bahurekso, pendopo kebanggaan masyarakat Kabupaten Kendal itu sejenak berubah menjadi ruang puisi. Sebuah buku antologi puisi, berjudul “Senandung Angin Laut Dalam Sejuk Gunung Kendal”, memuat 43 puisi dari 21 penyair, merayakan Hari Jadi ke-420 Kabupaten Kendal bukan hanya dengan gegap gempita, tetapi dengan kata-kata yang mengendap dalam hati.
Di antara para penyair, nama Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari muncul bukan sebagai pejabat yang sekadar membuka acara, melainkan sebagai salah satu penyair yang menyumbangkan puisinya. Mbak Tika, begitu ia akrab disapa, membacakan langsung karya puisi ciptannya dalam peluncuran yang khidmat sekaligus menyentuh. Dengan memakai kebaya sederhana dan suara yang tenang, ia menyebut buku ini sebagai hadiah istimewa untuk Kendal tercinta.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada semua penyair yang menyumbangkan karyanya. Tetaplah semangat berkarya dan jaga keanekaragaman seni dan budaya,” katanya dalam sambutan hangat yang disambut tepuk tangan hadirin, Sabtu (26/7/2025) malam.
Salah satu puisinya, “Pesonamu”, ia bacakan sendiri dengan penghayatan mendalam. Namun suasana semakin puitis ketika puisi lainnya, “Senandung Angin Laut, Kendal”, diinterpretasikan secara musikal oleh grup musik Satoe Boemi dari Semarang. Kata-kata berubah menjadi melodi, dan Kendal seakan menjelma dalam suara, irama, dan gema, yang indah.
Peluncuran buku antologi puisi ini diprakarsai oleh budayawan Nurdien H. Kistanto, tidak sekadar menjadi penggagas, tetapi juga saksi sejarah. Bagi Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro itu, Kendal bukan sekadar daerah administratif, melainkan ruang batin yang menyimpan kenangan, terutama masa-masa tinggal di Penanggulan, Pegandon.
“Saya berterima kasih kepada semua pihak yang mendukung acara ini, terutama Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari yang memberi ruang bagi ekspresi seni dan budaya,” ungkap Nurdien.
Acara malam itu menjadi semacam parade baca puisi. Nama-nama penyair yang hadir bukan hanya menghiasi halaman buku, tetapi juga mengisi ruang pendopo dengan suara dan makna: Timur Sinar Suprabana, Gunoto Saparie, Achmad Subchan Darussalam, Slamet Priyatin, Bahrul Ulum, Setia Naka Andrian, Lukluk Anjaina, Heri CS, dan Narti Rikha turut naik panggung, membacakan puisi masing-masing.
Hadir pula Niken Larasati, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kendal, tampil membacakan puisi dengan suara yang jernih. Ia bukan sekadar istri pejabat dan anggota legislatif, tetapi juga bagian dari suara kolektif yang menghidupkan Kendal lewat kata.
Deretan tamu penting terlihat menyimak dengan penuh perhatian. Wakil Bupati Kendal Benny Karnadi, dr. Siti Qomariyah (Komisaris RS Baitul Hikmah Pucangrejo), Akhmad Mundolin (Dirut PT BPR BKK Kendal), Camat Weleri Dwi Cahyono Suryo, Masruhan Samsurie (Ketua DPW PPP Jateng), dan Gunoto Saparie (Ketua Umum Satupena Jateng), menunjukkan bahwa puisi malam itu tidak hanya bersandar pada estetika, tetapi juga menyatukan komunitas—dari birokrasi hingga budayawan.
“Antologi ini bukan sekadar kumpulan puisi. Ia adalah napas Kendal yang dituangkan dalam larik-larik kata. Dalam sejuk gunung dan desir angin laut, kata-kata berdiam, berdoa, dan bersyair. Kendal pun tak hanya merayakan ulang tahun, tapi juga merayakan dirinya sendiri, dalam bahasa yang abadi,” ujar Koordinator Sindikat Budaya Kendal Kelana Siwi Kristyaningtyas. (subagyo/ss)







