P3M dan CCEP Indonesia Gelar Program Pengelolaan Sampah di 10 Pesantren


Menjaga lingkungan adalah bagian dari jihad yang dulu dilakukan para kyai, ulama dan santri pejuang (foto:ist)

Semarangsekarang.com (Jakarta),- Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)  meluncurkan Program Pengelolaan Sampah di Pesantren. Untuk tahap pertama program ini menjangkau 10 pesantren yang ada Pulau Jawa. Hasilnya beberapa pesantren telah mendapatkan pelatihan hingga pemberian sarana terkait dengan pengelolaan sampah.

Ke-10 pesantren yang terlibat dalam aksi  “GELAR BUMI” (Gerakan Santri Lestarikan Bumi), itu adalah,  Pesantren Nur El Falah, Serang,  Pesantren Buntet, Cirebon. Pesantren Al Muhajirin, Purwakarta, Pesantren Al Ittihad Poncol Semarang, Pesantren Al Anwar 2 Sarang Rembang, Pesantren API Tegalrejo Magelang. Selain itu jugu  Pesantren Al Miftah Mlangi Yogyakarta,  Pesantren Lirboyo Kediri, Pesantren Al Muhajirin III Tambak Beras, Jombang dan  Pesantren Al Fattah Siman Lamongan.

“Menanggulangi masalah lingkungan adalah bagian menyambung semangat juang para kiai dulu. Kalau dahulu melawan penjajah, sekarang salah satunya adalah berjuang mengatasi persoalan lingkungan,” ungkap Direktur P3M KH Sarmidi Husna.

Untuk itu, lanjut Kiai Sarmidi, P3M memiliki inisiatif untuk mengangkat problem lingkungan di masyarakat dan pesantren dalam programnya.

Terkait masalah lingkungan, kata Kiai Sarmidi  Nahdlatul Ulama (NU) pada Muktamar NU di Cipasung 1994 memutuskan bahwa hukum mencemarkan lingkungan baik udara, air atau tanah adalah haram.

“Pelakunya dapat dianggap kriminal (jinayat). Keputusan selanjutnya adalah karena hukum pencemaran lingkungan sudah haram dan pelakunya kriminal, maka kalau ada kerusakan lingkungan, yang harus memperbaiki/ganti rugi kerusakan adalah pelaku pencemaran itu,” jelasnya.

Persoalan sampah di lingkungan pesantren, sudah menjadi problem bersama. Selain itu, persoalan sampah ini sudah mulai menimbulkan bahaya (mudarat). Berdasarkan kaidah, ad-dhararu yuzalu (bahaya itu harus dihilangkan). Keharusan menghilangkan bahaya/mudharat diperlukan upaya yang sungguh-sungguh untuk menghilangkannya. Upaya yang sungguh-sungguh inilah bagian dari jihad. Karena jihad itu tidak hanya perang saja. Menghilangkan bahaya itu bagian dari jihad

Menurutnya program pengelolaan sampah di pesantren salah satunya adalah  terbentuknya tim Pengelola Sampah di pesantren dan desa berjumlah 75 orang.

“Mereka telah dilatih untuk mampu menjadi pengelola yang memiliki pemahaman, pengetahuan dan keterampilan dalam manajemen pengelolaan sampah,” ungkap Kiai Sarmidi. 

Selain itu juga munculnya sistem pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan di pesantren.  “Dan yang tidak kalah penting adalah adanya infrastruktur seperti rumah Sampah dan rumah Kompos serta fasilitas pendukungnya seperti tempat sampah terpilah  dan lain-lain,” tambahnya.  

Kiai Sarmidi menambahkan P3M telah melaksanakan berbagai kegiatan terkait dengan pengelolaan sampah, sejak Oktober 2024.  Diantara adalah workshop, FGD di sepuluh pesantren, kemudian mindstreaming dan penyerahan bantuan berupa alat angkut sampah hingga tablet untuk membantu pengelolaan sampah.

“Acara tersebut total semuanya diikuti sebanyak 1400 orang,”  ujarnya. 

Sementara itu Lucia Karina, Direktur Public Affairs, Communications, and Sustainability CCEP Indonesia  menyatakan bahwa pihaknya akan fokus pada edukasi pemilahan sampah dan daur ulang kemasan PET. “Kami ingin menciptakan ekosistem daur ulang yang melibatkan santri, pesantren, dan masyarakat sekitar, sekaligus mendukung target kami untuk mengumpulkan 100% kemasan pada tahun 2030,” katanya.

Selain itu, lanjut Karina, Indonesia menyebut masalah lingkungan seperti sampah itu sebetulnya bukan hanya tanggung jawab satu pihak saja. “ Persoalan ini tanggung jawab semua insan. Bukan tanggung jawab perusahaan atau pemangku kebijakan saja,” ungkapnya.

Pesantren lanjut Karina mempunyai peran sebagai pemimpin dan menjadi role model bagi masyarakat sekitarnya dalam penanggulangan masalah lingkungan ini.

“Pesantren dalam menyambung juang adalah sebagai katalisator. Pesantren bisa menjadi pemimpin dalam perubahan mengurangi dampak persoalan lingkungan yang ada saat ini,” ungkapnya.(mbo/ss)

Berita Terkait

Top