439 Peserta Ikut dalam Pertemuan Pramuka Berkebutuhan Khusus
Para peserta berinteraksi dengan sesama dan mengikuti berbagai kegiatan yang dilaksanakan. (foto:ist)
Semarangsekarang.com (Semarang),- Gerakan Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) Kota Semarang menggelar Pertemuan Pramuka Berkebutuhan Khusus di Taman Grand Maerakaca, Taman Mini Jawa Tengah, Selasa (18/11/2025). Kegiatan tahunan ini menjadi ruang ekspresi dan pertemuan bagi ratusan peserta didik berkebutuhan khusus dari berbagai SLB di Kota Semarang.
Kegiatan tahun ini diikuti 11 sekolah luar biasa (SLB) atau gugus depan (gudep) dengan total 439 peserta. Rinciannya, 322 peserta didik, 11 pembina pendamping, serta 66 pembina pendukung. Dua gudep lain tidak mengirimkan peserta karena kondisi salah satu anak yang dinilai kurang kondusif jika berada di area terbuka.
Pertemuan dibuka secara resmi oleh Ketua Kwarcab Kota Semarang, Dr. Bambang Pramusinto, S.H., S.IP., M.Si. Dalam sambutannya Bambang menekankan pentingnya inklusivitas dan pemberdayaan bagi peserta didik disabilitas melalui kegiatan kepramukaan.
“Semoga kegiatan ini bisa menyadarkan kita semua bahwa anak-anak ini membutuhkan perhatian dan kasih sayaang, selain belajar makna kemandirian,” ungkap Bambang
sementara itu, Ketua panitia pelaksana, Sri Sugiarti SPd menjelaskan, berbagai permainan tradisional menjadi salah satu agenda utama. Selain itu, peserta juga diajak mengikuti aktivitas literasi, pentas budaya, serta beberapa jenis permainan tim yang menekankan kerja sama (teamwork).
Meski ada unsur kompetisi, Sri Sugiarti menegaskan bahwa fokus kegiatan bukan pada lombanya, melainkan partisipasi aktif dan kesempatan bagi peserta untuk mengekspresikan diri.
“Kegiatan ini memberikan ruang bagi teman-teman disabilitas untuk menunjukkan kemampuan mereka. Yang kami tonjolkan adalah proses, bukan menang atau kalah,” katanya.
Sri Sugiarti menambahkan, melalui pertemuan ini diharapkan terjalin persaudaraan antar peserta dari berbagai SLB di Kota Semarang.
Selain itu, kegiatan ini menjadi ruang saling dukung, baik antar peserta, pembina, maupun orang tua.
“Outputnya adalah pertemanan, kemandirian, dan penguatan. Kami ingin menunjukkan bahwa anak-anak disabilitas mampu berekspresi dan berapresiasi seperti peserta lainnya. Ini sekaligus memberikan pemahaman bagi masyarakat dan orang tua bahwa kemampuan mereka sangat luas,” jelasnya.
Taman Grand Maerakaca dipilih sebagai lokasi kegiatan karena dinilai aman, luas, dan ramah bagi seluruh peserta. Area anjungan yang beragam juga menjadi pertimbangan, terutama untuk mengantisipasi perubahan cuaca yang bisa terjadi secara tiba-tiba. Selain itu, akses menuju lokasi relatif mudah bagi sekolah-sekolah peserta.
“Maerokoco punya ruang yang lapang sekaligus fasilitas yang bisa melindungi anak-anak kalau cuaca berubah. Itu menjadi pertimbangan utama kami,” kata Sri Sugiarti.
Kegiatan berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Senyum, tawa, serta semangat para peserta menjadi bukti bahwa ruang inklusif seperti ini sangat dibutuhkan untuk memperkuat tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus melalui kegiatan kepramukaan. (wahid/ss)






