Atasi Ancaman Abrasi  Pemprov Bangun “Hybrid Sea Wall”


Alat berat digunakan untuk membangun  Hybrid Sea Wall di desa Surodadi. (foto:ist)

Semarangsekarang.com (Demak),-  Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, membangun hybrid sea wall atau tanggul pantai berbasis solusi alam (nature-based solution) di Desa Surodadi, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Pembangunan tanggul sepanjang sekira 930 meter tersebut dilakukan, untuk mengurangi ancaman abrasi, gelombang laut, dan banjir rob.

Infrastruktur itu dirancang tidak hanya mengandalkan konstruksi beton, tetapi juga mendukung pertumbuhan mangrove sebagai pelindung alami kawasan pesisir. Selain menghadang air laut, hybrid sea wall juga akan mengurangi abrasi dan mengembalikan daratan dalam Jangka panjangnya.

Kepala Bidang Sungai, Bendungan, dan Pantai pada Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi Jawa Tengah, Andis Setiyo Septiyantok mengatakan, pembangunan tersebut memiliki panjang total sekitar 930 meter. Pekerjaan meliputi bangunan utama sepanjang sekitar 700 meter, serta bangunan groin atau pemecah gelombang sepanjang lebih dari 200 meter. Proyek tersebut ditargetkan selesai pada 26 November 2026.

“Bis-bis beton ini untuk menahan gelombang laut. Nanti di belakangnya akan ditumbuhi mangrove-mangrove, yang diharapkan bisa menahan gelombang laut, menahan abrasi, dan mengembalikan garis pantai atau tanah yang hilang,” ujarnya, Selasa (20/10/26).

Menurutnya, sesuai arahan Gubernur Ahmad Luthfi, pendekatan hybrid sea wall menggabungkan perlindungan melalui konstruksi beton dengan pemulihan vegetasi pesisir. Beton berfungsi melindungi mangrove yang masih tumbuh agar dapat berkembang hingga besar, kemudian menjadi benteng alami untuk menghadapi gelombang laut.

Andis menjelaskan, keberadaan mangrove juga diharapkan membantu menahan dan menangkap sedimen, sehingga daratan pesisir yang terkikis dapat terbentuk kembali. Dalam jangka panjang, pembangunan itu ditujukan untuk mengurangi abrasi dan rob, sekaligus menahan laju air laut yang masuk ke daratan.

“Kalau mangrove saja yang ditanam, otomatis nanti tidak bisa sampai besar. Harapannya, ini sebagai pelindung agar mangrovenya bisa besar, kemudian menjadi pelindung alami terhadap pantai-pantai kita,” jelasnya.

Untuk tahun ini, pembangunan hybrid sea wall baru menjangkau Desa Surodadi. Andis menyebut, desain penanganan kawasan tersebut secara keseluruhan mencapai sekitar 10 kilometer. Pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap, menyesuaikan usulan dan realisasi anggaran.

“Harapannya bisa dibangun secara menyeluruh, agar menjadi solusi terkait abrasi di sini,” terangnya.

Sementara, Kepala Desa Surodadi, Supriyanto, menyambut baik pembangunan tersebut. Dia mengatakan, pemerintah desa bersama masyarakat mendukung pelaksanaan proyek, termasuk membantu kelancaran pekerjaan dan distribusi material di lokasi.

Namun, Supriyanto berharap, pembangunan tidak berhenti pada tahap yang saat ini dikerjakan. Menurutnya, jarak kawasan yang perlu dilindungi di wilayah desanya mencapai sekitar dua kilometer, sehingga penanganan sepanjang kurang lebih 930 meter, belum mencakup seluruh kawasan yang membutuhkan perlindungan.

“Kami sangat mengapresiasi dan mendukung penuh kegiatan ini. Harapan kami, pembangunan hybrid sea wall dilanjutkan, karena sangat membantu mengurangi abrasi, paling tidak agar kami tetap bisa bertahan dengan baik seperti dulu,” kata Supriyanto.

Dia menjelaskan, abrasi menjadi persoalan serius di kawasan pesisir Demak. Selain Sayung, wilayah pesisir Kecamatan Karangtengah, Bonang, dan Wedung juga menghadapi persoalan serupa.

“Kami berharap penanganan abrasi dilakukan secara menyeluruh, agar perlindungan di satu kawasan tidak membuat wilayah pesisir lain luput dari perhatian,” harapnya.(Wahid/ss)

Berita Terkait

Top