Dipersekusi, Warga Laporkan Pelaku ke Polres Jepara


RW (kanan) didampingi ketabatnya saat membuat laporan ke Polres Jepara. (foto: istimewa)

Semarangsekarang.com (Jepara) – Warga Desa Karang Sari RT 01 RW 02 berinisial RW membuat Laporan Polisi (LP) atau pengaduan tentang kejadian dugaan tindakan pidana atau dugaan melanggar hukum yang dilakukan oleh 10 anak-anak muda. Hal tersebut seperti tertuang dalam Laporan Pengaduan no STPL/487/VII/2023/Res.Jepara.Reskrim.

Penggugat RW datang ke Satreskrim didampingi Edy dari Ormas Gerakan Jalan Lurus (GJL) Pati dan beberapa anggotanya. “Akan kami kawal kasus ini sampai selesai. Untuk pembelajaran agar warga tidak seenaknya, main hakim sendiri atau persekusi (persecution),” kata Edy.

Kronologis kejadian, Senin, 26 Juni 2023 RW sebagai korban pelapor dimintai tolong oleh bibinya bernama Kusniati untuk menjemputnya di SMA Negeri 1 Donorojo, pada pukul 15.00 WIB.

Perjalanan dari Karang Sari Cluwak ke Donorojo Jepara yang cukup jauh.
Korban berinisiatif untuk berangkat lebih awal. Akan tetapi setelah sampai di tengah perjalanan bibinya (Kusniati) memberi kabar lewat pesan WhatsApp atau WA, bahwa pulangnya jam 15.30. ”Saya pulang jam 15.30 WIB jadinya dik, info Kusniati,” kata RW.

Karena masih cukup lama, maka dia memutuskan ke Benteng Portugis yang dalam perjalanan balik RW mampir ke rumah Fitri warga dukuh Gethakan desa Banyumanis Donorojo Jepara untuk bersilaturahmi dan menanyakan kabar adiknya, Lilis.

Selang 5 menit, RW bermaksud untuk pulang, namun tiba-tiba datanglah seseorang berinisial A masuk kedalam rumah dan bertanya kepada RW dengan nada tinggi.

Lantas RW tidak diperbolehkan pulang dan A meminta kunci motor RW serta memanggil teman-temannya. “Salah satu teman A yaitu P membawa saya kedapur dan menanyakan beberapa hal,” jelas RW.

Selanjutnya ketua RT, Ketua RW, tokoh masyarakat yang disebut Tuwowo dan beberapa warga dukuh Gethakan lainnya. Ketua RT dan beberapa warga meminta RW untu menghubungi keluarganya guna menjemput RW di lokasi tersebut.

Tetapi beberapa warga, ada yang meminta KTP, HP dan Motor untuk ditinggal ditempat tersebut.

Ketika RW menunggu kedatangan keluarga yang menjemput, RW atau dibawa ke teras oleh H (adik ipar Fitri). Di tempat tersebut RW difoto dan di video. Beberapa warga (anak-anak) lainnya, meminta RW ditelanjangi dan disebarkan ke sosmed.

”Untungnya, ada beberapa ibu- ibu yang melarang para pemuda tersebut untuk menelanjangi saya,” ungkap RW.

Dikeroyok

Selanjutnya di halaman rumah tersebut, ia dikeroyok, dianiaya, dan ditelanjangi dengan cara dirobek-robek pakaiannya oleh kurang lebih sepuluh anak muda dan disaksikan oleh warga. Kesepuluh anak muda itu dikenali RW bernama A, H, P dan tujuh orang terduga lainnya.

Oleh Tuwowo, RW dibawa ke Polsek Donorojo dalam keadaan telanjang dada dan hanya memakai celana yang sebagian sudah terobek-robek.

Pada saat di Polsek, dompet dan jaket RW dikembalikan akan tetapi ada sejumlah uang yang hilang. Di Polsek Donorojo, korban di intimidasi dan dipaksa oleh beberapa warga supaya RW membuat pernyataan tertulis serta menandatangi surat perjanjian. Pernyataan itu berisi, apabila RW tidak hadir dibalai Desa Banyumanis pada waktu yang telah ditentukan, maka barang-bara yang di rampas oleh anak-anak muda itu, tidak akan dikembalikan.

Menurut RW mengatakan bahwa, dasar hukum laporan tersebut adalah: 1. Undang undang Dasar 1945 pasal 27 dan pasal 28D, 2. Undang Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang POLRI, 3. Pasal 170 KUHP, 4. Pasal 368 KUHP , 5. Pasal 372 KUHP, 6. Undang Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, 7. Pasal 30 Undang Undang Nomor 19 tahun 2016 perubahan atas Undang Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan 8. Pasal 55 ayat 1 huruf Ke-1 Mereka yang melakukan, yang menyuruh lakukan dan yang turut serta melakukan perbuatan.

Sebagai barang bukti, saya menyerahkan flashdisk yang berisi video, jaket dan celana pada saat kejadian.Surat laporan /pengaduan korban dibuat berdasarkan kronologis kejadian yang saya alami saat itu, ungkap RW lagi.

RW mengatakan bahwa adanya laporan atau pengaduan ini, untuk dapat diperiksa dan dapat ditindak lanjuti sesuai hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selanjutnya laporan atau aduan ini di tembuskan kepada, Presiden Republik indonesia, Ketua Komnas HAM Republik Indonesia, Ketua Kompolnas Republik Indonesia, Menteri Polhukam Republik Indonesia, Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Kepala ombudsmen Republik Indonesia, Kapolda Jawa Tengah, Media atau Pers dan Arsip. (boedi-SS)

Berita Terkait

Top