Bagi Bamsoet Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno adalah Prajurit Sejati
Pimpinan MPR periode 2019-2024 melakukan silaturrahim di kediaman Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno. (foto:ist)
Semarangsekarang.com (Jakarta),- Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 Bambang Soesatyo, menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Wakil Presiden ke-6 RI, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno. Bagi Bamsoet, almarhum adalah sosok tentara yang konsisten sampai akhir hayatnya memikirkan masa depan bangsa, terutama soal Pancasila, keutuhan NKRI, dan arah konstitusi negara.
“Pak Try adalah prajurit sejati. Cara bicaranya tenang, tapi isinya dalam. Di usia yang sudah sangat senior, beliau masih mengikuti perkembangan bangsa dan terus mengingatkan kami soal dasar negara dan konstitusi,” ujar Bamsoet di Jakarta, Senin (2/3/26).
Menurut Bamsoet sebagai Panglima ABRI periode 1988–1993 dan Wakil Presiden RI periode 1993–1998, Try Sutrisno mengalami langsung masa-masa penting dalam sejarah Indonesia. Beliau berada di lingkar kekuasaan menjelang Reformasi 1998, lalu menyaksikan perubahan besar ketika UUD 1945 diamendemen empat kali pada 1999–2002.
“Beliau sering bilang, demokrasi itu penting dan harus dijaga. Tetapi kita juga harus berani mengevaluasi. Jangan sampai sistem yang kita bangun justru menjauh dari karakter bangsa sendiri,” kata Bamsoet.
Pada ertemuan kebangsaan bersama pimpinan MPR periode 2019-2024, kata Bamsoet, Try Sutrisno kerap menyampaikan bahwa amendemen konstitusi adalah produk sejarah yang lahir dari semangat Reformasi. Namun setiap produk sejarah tetap terbuka untuk dikaji ulang jika ada hal-hal yang dirasa kurang pas dengan kebutuhan zaman.
“Beliau sering bilang, perubahan itu wajar dalam demokrasi. Tapi kita jangan sampai kehilangan arah. Sistem presidensial Indonesia punya ciri khas sendiri. Jangan asal meniru sistem Barat tanpa melihat karakter bangsa kita. Karenanya, beliau mengusulkan untuk mengembalikan UUD 1945 ke format asli sebelum amandemen,” kata Bamsoet.
Keinginan Try Sutrisno untuk meninjau ulang hasil amendemen keempat UUD 1945, kata Bamsoet bukan berarti ingin mundur ke masa lalu. Try Sutrisno justru ingin memastikan bahwa perubahan yang terjadi benar-benar memperkuat negara.
“Pak Try selalu menekankan tiga hal, yakni Pancasila, NKRI, dan sistem presidensial khas Indonesia. Menurut beliau, tiga hal itu satu paket. Kalau salah satunya goyah, keseimbangan negara bisa terganggu,” pungkas Bamsoet. (mbo/ss)







