Esai Kearifan Lokal Peserta Bimtek Temanggung Siap Dibukukan
Ketua Satupena Kabupaten Temanggung Wiwik Hartati (kiri), sebagai salah seorang juri, menyampaikan evaluasi terhadap sejumlah karya para peserta Bimtek Penulisan Esai Berbasis Budaya dan Kearifan Lokal. (foto : ist)
Semarangsekarang.com (Temanggung),- Sebanyak 60 penulis di Kabupaten Temanggung telah menyerahkan karya tulisnya ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Temanggung untuk dibukukan. Buku tersebut merupakan antologi esai dengan tema “Budaya dan Kearifan Lokal Temanggung”. Para penulis ini terdiri dari mahasiswa/pelajar, pegiat literasi, guru, pustakawan, dan masyarakat umum.
Kepala Bidang Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Temanggung Niken Lestari, S. P. mengatakan, sebelum naskah para penulis ini dibukukan, pihaknya melakukan evaluasi kepenulisan terlebih dahulu, baik dari sisi konten budaya kearifan lokal Temanggung, maupun teknis penulisan.
“Jadi sebelumnya kita menyamakan visi dan persepsi terlebih dulu, agar bahan tulisan yang sudah terkumpul ini bisa disempurnakan untuk menjadi sebuah buku antologi esai berbasis budaya dan kearifan lokal Temanggung,” ujarnya, saat memimpin evaluasi penulisan, di Gedung II Sasana Bhakti Pustaka Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Temanggung, Kamis (14/8/2025).
Niken menjelaskan, para peserta Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal Bagi Mahasiswa/Pelajar, Pegiat Literasi, Guru, dan Pustakawan, Masyarakat Umum, telah mengirim naskah berupa esai. Bahan penulisan tersebut lalu dievaluasi, agar hasilnya dapat maksimal untuk dijadikan buku antologi esai.
Koordinator kegiatan tersebut Dwi Chandra S, A. Md menyampaikan, buku karya para penulis hasil bimbingan teknis dengan konten berbasis budaya lokal Temanggung ini, nantinya akan dipajang di Perpustakaan Nasional dan menambah referensi sekaligus juga sebagai bahan literasi masyarakat. Di samping itu, peserta bimtek juga akan mendapatkan satu buku antologi esai jika buku sudah tercetak.
“Jika semua bahannya sudah dievaluasi, akan segera kita kirim ke penerbit dan diurus ISBN-nya ke Perpusnas dan kemudian dicetak. Karena itu perlu kita pastikan supaya kontennya sesuai dengan muatan budaya lokal,” ungkap Chandra.
Salah satu narasumber bimbingan teknis, Wiwik Hartati, S. Pd, yang juga Ketua Satupena Kabupaten Temanggung melakukan evaluasi dengan serius, agar hasil penulisan berupa esai benar-benar layak, baik dari segi konten maupun bentuk pengungkapannya.
“Saya telah membaca beberapa karya penulis dan ada beberapa bagian yang perlu dikoreksi. Terutama dari segi bentuk pengungkapannya, baik mengenai ejaan maupun gaya bahasa,” ujar Kepala Madrasah MTs Ma’arif Nurul Huda Kaloran ini.
Yang menarik dari penulisan esai ini, peserta sesuai dalam mengusung tema yang telah disepakati, yaitu kearifan lokal budaya Temanggung. Antara lain mainan tradisional, makanan khas, wisata, upacara adat, dan tema lain yang terkait.
Begitu juga dengan narasumber lain dosen INISNU Ana sofiyatul Azizah, S. S. M. Pd. dan Saidatul Arifah, M. Pd. yang telah membaca sejumlah esai karya peserta bimbingan teknis. Dari sejumlah bahan tulisan tersebut, mereka menemukan kesalahan teknis penulisan, dan tidak memenuhi kaidah ejaan yang disempurnakan (EYD) maupun pedoman umum ejaan bahasa Indonesia (PUEBI).
Rizqi Al Hidayah, Sekretaris Satupena Kabupaten Temanggung, yang kebetulan peserta bimbingan teknis, telah menyerahkan karya terbaiknya “Menggugah Senja Rowo Gembongan”.
Beberapa karya penulis yang sempat dibahas, di antaranya “Permainan Tong Tong Bolong”, “Tiwul Instan”, “Warung Jadul Penjaga Kuliner Temanggung”, Tradisi Grebeg Makukuhan”, dan “Menyapa Langit di Sigandul View Surga kecil di Lereng Sumbing.” (subagyo/ss)






