Wali kota Agustina Siapkan Penanganan Kongkret Banjir di Mangkang Kulon


Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng bersama Kepala BNPB dan rombongan betada di lokasi penanganan banjir Mangkang Kulon. (Foto : ist)

Semarangsekarang.com  (Semarang),-  Penanganan banjir akibat tanggul jebol Sungai Plumbon di Kelurahan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Kota Semarang memasuki tahap penanganan darurat hingga rencana jangka panjang. Pemerintah pusat dan daerah berkolaborasi mempercepat normalisasi sungai, pembangunan hunian sementara (Huntara) hingga pembebasan lahan untuk pelebaran sungai.

Langkah tersebut melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kota Semarang, serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana.

Kepala BNPB, Suharyanto, mengatakan banjir yang sempat merendam sejumlah wilayah di Semarang kini mulai tertangani. Penutupan sementara titik tanggul jebol telah dilakukan sebagai langkah darurat agar aliran air tidak kembali meluap ke permukiman warga.

“BBWS sudah mengambil langkah darurat untuk menutup sumber banjir. Setelah ini akan dilakukan penanganan permanen agar kejadian serupa tidak kembali terulang,” ujar Suharyanto saat meninjau lokasi banjir di Semarang, Selasa (19/5).

Menurutnya, pemerintah juga telah menyiapkan langkah besar berupa normalisasi dan pelebaran Sungai Plumbon. Upaya tersebut akan dilakukan bersamaan dengan pembebasan lahan di sepanjang bantaran sungai.

Selain penanganan infrastruktur, pemerintah juga memastikan kebutuhan dasar warga terdampak tetap terpenuhi. Bantuan makanan, air bersih, pakaian, dan kebutuhan harian lain terus disalurkan kepada warga yang mengungsi maupun bertahan di rumah keluarga. BNPB juga menyiapkan pembangunan hunian sementara atau huntara bagi warga yang rumahnya tidak lagi aman dihuni.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyebut total terdapat 333 kepala keluarga atau sekitar 1.252 jiwa terdampak banjir di wilayah Kecamatan Tugu, Ngaliyan, dan Semarang Barat. Ia mengapresiasi kerja cepat petugas gabungan mulai dari BPBD, DPU, Damkar, hingga BBWS yang langsung melakukan pembersihan pascabanjir.

Agustina menegaskan pemerintah masih fokus memastikan kondisi rumah warga benar-benar layak huni kembali, termasuk memastikan peralatan rumah tangga yang sempat terendam masih dapat digunakan. Selain itu, Pemerintah Kota Semarang juga mulai mendata kebutuhan hunian sementara maupun relokasi permanen bagi warga yang tinggal di kawasan rawan banjir.

Menurutnya, solusi yang dilakukan bukan sekadar normalisasi, melainkan pelebaran sungai dari sekitar 10 meter menjadi 25 meter.

BBWS mencatat sejak 2024 sudah dilakukan pembebasan 92 bidang lahan dari total sekitar 318 bidang yang dibutuhkan untuk proyek pelebaran sungai. Sisanya akan kembali diusulkan melalui anggaran pemerintah pusat.
Sudarto juga menyebut Sungai Plumbon telah mengalami tujuh kali kejadian banjir besar dengan total 18 titik tanggul jebol dalam beberapa tahun terakhir. (subagyo/ss)

Berita Terkait

Top