Puncak Dugderan Berlangsung Meriah


Kanjeng Raden Mas Ayu Tumenggung Purbodiningrum saat naik dokar disambut meriah sepanjang jalan pada Kirab Budaya Dugderan di Semaranh. (foto: istimewa)

  • Sambut Ramadan 1444 H

Semarangsekarang.com – Kirab Budaya puncak Dugderan 1444 H tahun ini lebih meriah setelah pasca pandemi. Tradisi Dugderan yang telah digelar sejak 1881 kini telah menjadi salah satu event pariwisata unggulan kota Semarang dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Puncak Dugderan tahun ini juga sekaligus dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-476 kota Semarang. Kirab budaya disambut meriah warga Kota Semarang. Sepanjang pinggir Jalan Pemuda dipenuhi warga yang menyaksikan kirab budaya sebagai puncak tradisi Dugderan sambut Ramadan.

Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu mengungkapkan rasa syukurnya atas penyelenggaraan puncak Dugderan tahun 2023 ini sangat meriah.

Alhamdulillah, tahun ini, puncak Dugderan dilakukan secara total seperti saat sebelum pandemi beberapa tahun lalu,” ungkap perempuan yang akrab disapa mbak Ita.

Ada hal berbeda dalam penyelenggaraan puncak Dugderan kali ini, jika tahun-tahun sebelumnya wali kota yang bertindak sebagai Kanjeng Raden Mas Arya Purbaningrat, kali ini wali kota perempuan pertama di Kota Semarang itu sebagai Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Purbodiningrum.

Dalam kesempatan itu, mbak Ita juga mengucapkan selamat memasuki bulan Ramadan dan sangat bersyukur karena pasca pandemi sejumlah kegiatan dapat dilaksanakan tanpa pembatasan dan berlangsung lancar.

“Semua kegiatan bisa sepenuhnya dijalani. Kegiatan ibadah sudah 100%, Alhamdulillah, melaksanakan ibadah sudah bisa diadakan di masjid-masjid atau di musola,” kata Mbak Ita.

Meski demikian, pihaknya tetap berpesan kepada warga kota Semarang untuk dapat menyesuaikan dengan protokol kesehatan.

“Kami mengimbau tetap mewujudkan protokol kesehatan seperti cuci tangan, kalau di tempat ramai ya tetap pakai masker,” lanjutnya. Mbak Ita menekankan pada intinya agar warga bisa menjaga diri di masing-masing kegiatan.

Selain itu, Mbak Ita memberitahukan kepada warga agar tidak melaksanakan berbuka puasa ataupun sahur bersama di jalan raya. Mbak Ita menegaskan pihaknya akan menyediakan tempat-tempat untuk kegiatan tersebut.

“Kami juga menghimbau kepada masyarakat agar dalam melaksanakan kegiatan berbuka puasa dan sahur bersama harus melaksanakan sesuai dengan titik-titik lokasi yang ditentukan Pemkot Semarang,” jelasnya.

Ia mengimbau agar dalam kegiatan sahur dan berbuka puasa bersama tidak dilakukan di jalanan, karena sudah ada Peraturan Wali kota yang melarang hal itu.

Pemulihan ekonomi

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Semarang, Wing Wiyarso Poespojoedho mengungkapkan, tema Dugderan kali ini adalah ‘Simpul Penguatan Kemajemukan Budaya Menuju Pemulihan Ekonomi’.

Tema tersebut, lanjutnya, mengandung arti kebangkitan perekonomian masyarakat Kota Semarang setelah pandemi Covid-19 berakhir.

Berbeda dari dua edisi sebelumnya saat pandemi, pada tahun ini rangkaian acara digelar secara total tanpa ada pembatasan. Ribuan warga tumpah ruah di sepanjang Jalan Pemuda untuk mengikuti kirab.

Antusiasme warga masyarakat untuk menyaksikan pawai puncak Dugderan juga terlihat di Masjid Agung Kauman Semarang dan Masjid Agung Jawa Tengah.

Rangkaian puncak Dugderan telah dimulai pada Senin (20/03/2023) kemarin dengan karnaval yang diikuti para pelajar SMP di Kota Semarang dan dilanjutkan puncak acara berupa kirab budaya pada Selasa (21/3/2023) ini. (subagyo-SS)

Berita Terkait

Top