Kirab Budaya Haul Akbar KH R Syafii Ulama Besar dan Pejuang
Oplus_131072
Peserta kirab budaya haul akbar KH R Syafii paling depan penunggang kuda dan diikuti peserta start dari Mangkang. (Foto : ist)
Semarangsekarang.com (Semarang),- Warga Kota Semarang khususnya dari Mijen, Ngaliyan, Tugu, Semarang Barat mengenal sosok KH R. Syafii Piyoro Negoro sebagai ulama besar sekaligus pejuang.
Dalam Kirab Budaya Haul Akbar KH R Syafii Piroyo ribuan warga menyaksikan kirab yang dimulai dari Terminal Mangkang menuju pemakaman Mbah Syafi’i di Dondong, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan Minggu (12/4/26) itu menjadi momentum untuk meneladani perjuangan dan nilai-nilai religius yang diwariskan oleh tokoh penyebar Islam di Pulau Jawa.
Ketua DPRD Kota Semarang, Kadar Lusman bersama anggota DPRD Jawa Tengah, Krisseptiana Hendrar Prihadi dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari melepas kirab Budaya Haul Akbar tersebut.
Mbah Syafi’i tak hanya berperan dalam syiar Islam, tetapi juga disebut ikut berjuang melawan penjajahan Belanda. Bahkan, dalam cerita tutur masyarakat, ia diyakini pernah menjadi bagian dari pasukan Sultan Agung. Dan, dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Luhur Dondong pada tahun 1609.
Kadar Lusman yang juga tokoh masyarakat setempat, mengatakan, nilai perjuangan dan keteladanan Mbah Syafi’i harus terus diwariskan kepada generasi muda. “Beliau bukan hanya mensyiarkan agama, tetapi juga ikut berjuang melawan penjajah. “Ini yang harus kita teladani, baik semangat religius maupun nasionalismenya,” ujarnya.
Pilus, sapaan akrabnya menambahkan, kegiatan haul yang diisi dengan kirab budaya, doa bersama, dan sholawatan menjadi sarana efektif untuk mengingat sekaligus menanamkan nilai perjuangan tokoh kepada masyarakat.
Selain dikenal sebagai ulama pejuang, Mbah Syafi’i juga memiliki kontribusi besar dalam dunia pendidikan Islam. Pondok Pesantren Luhur Dondong yang didirikannya masih bertahan hingga kini dan menjadi bagian dari jejak sejarah penyebaran Islam di wilayah Semarang.
Dalam kirab haul tersebut, turut ditampilkan kitab peninggalan Mbah Syafi’i yang masih tersimpan di pondok pesantren sebagai simbol warisan keilmuan yang terus dijaga.
Meski begitu, pengurus pondok mengakui bahwa literasi tertulis mengenai sosok Mbah Syafi’i masih terbatas. Hal ini disebabkan banyak dokumen penting yang hilang akibat dibakar pada masa penjajahan serta bencana banjir.
Melalui haul dan kirab budaya ini, Pilus berharap keteladanan Mbah Syafi’i sebagai ulama dan pejuang tidak hanya dikenang, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya bahkan menilai sosok beliau layak diusulkan sebagai pahlawan nasional,” pungkasnya. (subagyo/ss)







